PENDAHULUAN
Pekerja sosial merupakan bidang keahlian yang memiliki kewenangan untuk melaksanakan
berbagai upaya guna meningkatkan kemampuan orang
dalam melaksanakan fungsi-fungsi sosialnya melalui interaksi agar
orang dapat menyesuaikan diri dengan situasi kehidupannya secara memuaskan.
Kekhasan pekerja sosial adalah pemahaman dan keterampilan dalam memanipulasi perilaku manusia
sebagai makhluk sosial.
Wajar bila orang memiliki masalah,
mereka mencari bantuan. Biasanya, mereka berpikir mereka tidak memiliki kapasitas untuk memecahkan
masalah mereka kecuali seseorang membantu mereka untuk melakukannya. Dan
bahkan ketika bantuan datang, mereka
mengharapkan pembantu untuk menghasilkan keajaiban yang akan memecahkan masalah mereka. Para pekerja sosial harus membuat
peran pekerjaan mereka jelas ketika mereka didekati oleh klien. Peran mereka adalah untuk membantu klien untuk
mengetahui mengapa mereka membutuhkan bantuan dan di mana mereka bisa mendapatkannya. Profesi pekerjaan sosial mendorong pemecahan masalah dalam
kaitannya dengan relasi kemanusiaan, perubahan sosial, pemberdayaan, dan
pembebasan manusia , serta perbaikan masyarakat.
Untuk menjadi seorang pekerja sosial profesional
haruslah memiliki kemampuan keahlian dasar yang terdiri atas: pengetahuan,
keterampilan, dan sikap profesional. Dengan kemampuan tersebut baik yang
didapat dari pendidikan formal maupun dari pengalaman-pengalaman praktiknya
maka perkejaan sosial profesional diharapkan dan dituntut untuk mampu
memecahkan masalah-masalah sosial.
Pekerjaan sosial adalah suatu bidang
yang melibatkan interaksi diantara orang dengan lingkungan sosialnya yang menggunakan kemampuan orang
untuk menyelesaikan tugas-tugas kehidupan mereka, mengatasi penderitaan, dan
mewujudkan aspirasi-aspirasi serta nilai-nilai mereka.
Pekerjaan sosial sebagai suatu profesi dapat
dikatakan sebagai profesi yamg baru muncul di abad kedua puluh. Berbeda dengan
profesi lain yang mengembangkan spesialisasi untuk mencapai kematangannya, maka
pkerjaan sosial lebih berusaha
untuk
menyatukan berbagai bidang ilmu ataupun spesialisasi dari berbagai praktik.[1]
Pekerjaan sosial bukan tentang memberikan solusi untuk masalah saja, tetapi memberikan sebuah ruangan dimana klien dapat meninjau keprihatinan mereka dan melihat bagaimana mereka dapat mengelola apa yang terbaik dan menjalani kehidupan yang efektif. Pekerjaan sosial menghubungkan klien dengan layanan, sumber daya dan peluang yang mungkin memberi mereka bantuan yang mereka butuhkan. Ini memberikan kontribusi untuk klien dalam pemecahan masalah.[2]
Menurut Thelma Lee Mendoza, pekerjaan sosoial
merupakan profesi yang memperhatikan penyesuaian antara individu dengan
lingkungannya dan individu dalam
hubungan dengan situasi kondisi lingkungannya. Dari pandangan ini, permasalahan
dalam bidang pekerjaan sosial erat kaitannya dengan masalah fungsi sosial,
yaitu kemampuan seseorang untuk menjalankan perannya sesuai dengan tuntutan
lingkungannya.
Pada umumnya dalam relasi antara pekerja sosial
dengan klien ada prinsip-prinsip yang harus diperhatikan oleh pekerja sosial
terutama ketika menerapkan metode bimbingan perseorangan, yaitu:
1.
Penerimaan
Prinsip ini mengemukakan bahwa seorang
pekerja sosial menerima klien tanpa menghakimi klien tersebut terlebih
dahulu. Kemampuan pekerja sosial untuk
menerima klien dengan sewajarnya akan banyak membantu perkembangan relasi
antara pekerja sosial dengan kliennya.
2.
Komunikasi
Prinsip
komunikasi ini erat kaitannya dengan kemampuan pekerja sosial untuk menangkap
informasi ataupun pesan
yang dikemukakan oleh klien, baik dalam bentuk komunikasi yang verbal, yang diungkapkan klien ataupun
sistem klien, maupun bentuk komunikasi non verbal.
3.
Individualisasi
Prinsip
individualisasi pada intinya menganggap setiap individu berbeda dengan yang
lainnya, sehinngga
seorang pekerja soaial haruslah menyesuaikan cara memberi bantuan dengan setiap
kliennya, guna mendapatkan hasil yang diinginkan. Dengan adanya prinsip
individualisasi ini maka seorang pekerja sosial dibekali dengan pengetahuan
bahwa setiap individu adalah unik, sehingga pendekatan yang diutamakan adalah
kasus per kasus dan bukannya penggeneralisasian.
4.
Partisipasi
Berdasarkan
prinsip ini, seorang pekerja sosial harus mengajak kliennya untuk berperan aktif dalam upaya mengatasi
permasalahan yang dihadapinya, sehinnga klien ataupun sistem klien juga
mempunyai rasa tanggung jawab terhadap keberhasilan proses pemberian bantuan tersebut. Karena tanpa ada kerja sama dan peran serta dari
klien maka upaya pemberian bantuan sulit untuk mendapat hasil optimal.
5.
Kerahasiaan
Prinsip
kerahasiaan ini akan memungkinkan klien
ataupun
sistem klien mengungkapkan permasalahan yang ia hadapi dengan rasa aman, karena
ia yakin bahwa apa yang
ia utarakan dalam hubungan kerja sama dengan pekerja soaial akan tetap dijaga
oleh pekerja sosial
agar tidak diketahui oleh orang lain.
6.
Kesadaran
diri pekerja social (worker self-Awarness)
Prinsip ini
menuntut pekerja social untuk bersikap professional dalam menjalin relasi
dengan kliennya, dalam arri bahwa pekerja sosial harus mampu mengendalikan
dirinya sehingga tidak terhanyut oleh permasalahan yang dihadapi oleh kliennya.
Pekerja sosial di sini haruslah tetap rasional, tetapi mmpu menyelami perasaan
kliennya secara obyektif. Dengan kata lain, pekerj sosial haruslah menerapkan
sikap empati dalam menjalin relasi dengan kliennya.[3]
Untuk menjadi
seorang pekerja sosial profesional haruslah memiliki komponen-komponen keahlian dasar yang
terdiri atas: pengetahuan,
keterampilan, dan
sikap profesional. Dengan
bekal komponen-komponen
dasar tersebut baik yang didapat dari pendidikan formal maupun dari pengalaman-pengalaman
praktiknya
maka pekerjaan
sosial profesional diharapkan dan dituntut untuk memecahkan masalah-masalah
sosial yang timbul sebagai akibat dari adanya pembangunan.
Praktik pekerjaan sosial dapat membantu terwujudnya
suatu usaha kesejahteraan sosial.
Praktek
pekerjaan sosial tersebut dilandasi oleh tiga komponen penting yang menjadi
bagian dari landasan praktik
pekerjaan sosial. Komponen pengetahuan dan keterampilan adalah bagaimana
penerapan ilmu-ilmu sosial dalam praktek pekerjaan
sosial sedangkan komponen sikap merupakan landasan sikap profesional dalam
pekerjaan sosial.
Di dalam
prakteknya pekerjaan sosial didasarkan atas pengetahuan dan keterampilan yang
diorientasikan melalui tindakan. Pengetahuan ini meliputi Human Behavior and social environment,
social welfare system, methods of
social work, and research. Dengan demikian maka tanggung jawab utama
seorang pekerja sosial adalah menerapkan pengetahuan dalam pemecahan masalah.
Oleh sebab itu praktek pekerjaan sosial sebagai pelayanan
profesional dapat dipertanggungjawabkan, karena pada dasarnya praktek ini
menerapkan atau
mewujudkan pengetahuan
(knowledge) dan nilai (value). Untuk dapat mempraktekkan secara
bertanggungjawab maka diperlukan keterampilan-keterampilan (skills).
Naomi I. Brill dan Leonora Serafica de Guzman menyatakan
bahwa keterampilan-keterampilan pekerjaan sosial terdiri dari :
1.
Diferential Diagnosis, keterampilan ini
berhubungan dengan kemampuan pekerja sosial untuk memahami keunikan klien serta
situasinya serta menyesuaikan tekniknya terhadap klien. Disini pekerja sosial
diharapkan mampu mendiagnosa perbedaan-perbedaan tersebut, berarti tidak
dibenarkan untuk menangani masalah dengan cara yang sama
2.
Timing, manusia pada dasarnya mempunyai
masalah terus menerus. Namun di dalam menangani atau memecahkan suatu masalah,
seorang pekerja sosial dibatasi oleh waktu, disini berarti pekerja sosial harus
mempunyai keterampilan untuk merencanakan dan menggunakan waktu secara tepat.
3.
Partialization, masalah pada dasarnya
kompleks, yaitu luas dan komprehensif. Untuk dapat memahaminya para pekerja
sosial harus mempunyai keterampilan untuk memisah-misahkan serta membantu klien
memikirkan masalah itu dan memutuskan dimana titik mulai penanganan masalah.
4.
Focus, masalah sosial mempunyai banyak
dimensi dan masing-masing dimensi saling berinteraksi. Untuk itu pekerja sosial
harus mampu memfokuskan salah satu dimensi sebagai point of entry.
5.
Establishing Partnership, keterampilan ini berhubungan
dengan kerja bersama antara pekerja sosial dengan klien dalam mememahami
tugas-tugas dan peranan-peranan satu sama lainnya.
6.
Structur,
keterampilam
penstrukturan berhubungan dengan kemampuan pekerja sosial untuk menentukan setting
dan batas-batas yang dapat lebih berguna terhadap pekerjaan yang akan
dilakukan. Disini ditentukan dapat tidaknya dilakukan, kapan, dan dimana
diadakan konsultasi, hal-hal apa yang diperlukan dan sebagainya. (brill,
1978;128-132 dan Guzman 1983:100-104).[4]
Sedangkan keterampilan-keterampilan dasar yang perlu dimiliki
oleh pekerja sosial dikemukakan pula oleh Armando Morales dan Bradford W.
Sheafor sebagai berikut :
1.
Basic helping skills yaitu keterampilan
dasar dari pekerja sosial. Antara lain penerapan skill di dalam berhubungan dengan klien (relationship),
cara bertindak yang rasional termasuk kemampuan mengumpulkan data collection, kemampuan mengumpulkan
data analisis dan aksi.
2.
Engagement skills, adalah proses melayani
orang sebelum menjadi klien, pekerja sosial dapat menjelaskan pelayanan apa
yang ada pada lembaga tempat kita bekerja dan calon klien tersebut sebaiknya
mengetahui lembaga pelayanan yang ada di luar.
3.
Observation skills , yaitu keterampilan
untuk melakukan pengamatan. Pekerja sosial bukan hanya mengamati dengan mata
dan telinga tetapi juga dengan hati.
4.
Comunnication skills, yaitu kemampuan berkomunikasi.
5.
Emphaty skills, yaitu keterampilan untuk
merasakan apa yang sedang dirasakan orang lain hingga kita dapat menggunakan
akal pikiran kita untuk membantu memecahkan masalah.[5]
Selanjutnya pekerja sosial harus memahami berbagai pendekatan
lain di luar keterampilan-keterampilan tersebut di atas dan dapat memilih satu
diantaranya yang paling tepat untuk suatu tujuan tertentu. Akan tetapi
seringkali pekerja sosial dihadapkan pada satu situasi yang mengandung
prasangka-prasangka teoritis terpaku pada teori-teori ilmiah tertentu yang
dapat mempengaruhi usahanya untuk menyusun tugas-tugas dalam pekerjaannya dan
juga tujuan-tujuannya. Dengan kata lain ada suatu anggapan bahwa terdapat kesenjangan
antara teori yang dipelajari dengan praktek yang dilaksanakan dalam proses
pemberian bantuan. Dengan demikian
keterampilan pekerjaan sosial perlu diarahkan kepada situasi dan kondisi
permasalahan yang sering timbul di masyarakat agar praktek pemberian bantuan
dari pekerjaan sosial dapat berfungsi secara taat waktu dan taat asas.
Selain itu
pekerjaan sosial juga dipengaruhi oleh berbagai nilai. Pekerjaan sosial
menyatakan pentingnya nilai-nilai sebagai suatu dimensi yang besar dalam
praktek profesionalnya. Oleh sebab itu pekerja sosial menempatkan posisi yang
didasarkan atas suatu nilai-nilai. Nilai-nilai secara umum dapat diartikan
sebagai pusat pandangan setiap orang tentang bagaimana menjalani hidup ini.
Artinya nilai-nilai merupakan suatu pedoman tingkah laku bagi setiap orang
dalam melakukan tindakan di suatu lingkungan tertentu guna mencapai
tujuan-tujuannya.
Praktik pekerjaan sosial selalu berdasarkan pada nilai
masyarakat, karena profesi pekerjaan sosial mendapat misi untuk melaksanakan
sebagian dari fungsi masyarakat. Oleh sebab itu praktik pekerjaan sosial akan mengambil dan dipengaruhi oleh
nilai masyarakat. Jadi suatu profesi harus selaras dengan nilai-nilai
masyarakat. Praktik pekerjaan sosial di Indonesia harus yang sesuai dan
mendukung nilai masyarakat Indonesia.
Pengetahuan pekerjaan sosial dapat diambil dari mana saja,
tetapi kita perlu menyaringnya untuk disesuaikan dengan nilai masyarakatnya.
Nilai belum tentu merupakan hal yang dipraktikkan di dalam masyarakat atau dengan kata
lain apa yang dipraktikkan
di dalam masyarakat belum tentu merupakan kegiatan untuk mencapai/melaksanakan
nilai. Jadi nilai masyarakat sebagai salah satu sumber nilai profesi, karena
profesi sebenarnya lahir sebagai perwujudan dari pelaksanaan nilai masyarakat.
Konsep nilai banyak dibahas di dalam literatur
pekerjaan sosial,
karena nilai mempunyai pengaruh yang sangat besar di dalam pelaksanaan praktik pekerjaan sosial. Pekerja sosial dalam melaksanakan tugas-tugasnya selalu dipengaruhi
oleh nilai-nilai. Menurut
Armando Morales dan Bradford W. Sheafor sebagai berikut :
Nilai
pekerjaan sosial yang meliputi:
1. Nilai-nilai
personal (personal value)
2. Nilai-nilai
profesi (profesional value)
3. Nilai-nilai
pribadi (values of client’s)
4. Nilai lembaga tempat pekerja sosial bekerja
Nilai-nilai dasar pekerjaan sosial berasal dari nilai-nilai
masyarakat demokratis yang menekankan penghargaan pada martabat dan harga diri
manusia, serta antar hubungan yang saling menguntungkan diantara individu dengan masyarakat. Kemudian di dalam praktiknya, nilai-nilai tersebut dirumuskan menjadi prinsip-prinsip dasar pekerjaan sosial yang akan menjadi
landasan bagi praktik
pekerjaan sosial profesional.
Prinsip-prinsip dasar pekerjaan sosial tersebut meliputi:
keyakinan akan martabat dan harga diri manusia, keyakinan akan adanya hak
manusia untuk menentukan nasibnya sendiri, keyakinan akan adanya hak yang sama
bagi setiap manusia, serta keyakinan akan adanya tanggung jawab sosial dalam pelaksanaan
tugas-tugas kehidupan setiap manusia termasuk tugas profesionalnya.
Selanjutnya dalam praktik, pekerja sosial dituntut untuk mengenali, memahami, serta
menginternalisasikan beberapa nilai sebagai berikut :
1.
Penerimaan (acceptance)
2.
Komunikasi (communication)
3.
Partisipasi (participation)
4.
Bersikap adil, tidak terlalu memuji ataupun
mencela
5.
Menghargai
kerahasiaan dari privacy kliennya
6.
Mawas
diri pada pekerja sosial
7.
Memakai
rasio dalam memberikan tanggapan yang objektif
Dari uraian di atas dapat dijelaskan bahwa sikap pekerja
sosial dilandasi oleh prinsip-prinsip dasar profesional, nilai-nilai masyarakat
secara umum serta nilai-nilai masyarakat tempat dilaksanakannya praktik pekerjaan sosial. Dan pada dasarnya sikap
profesional tersebut terletak pada pengendalian diri pekerja sosial untuk tetap
mampu bersikap objektif tanpa pernah kehilangan sikap sebagai manusia biasa.
Dapat pula diartikan sikap profesional pekerja sosial terutama berarti kemampuannya
untuk mengenali dan menggunakan dirinya sendiri dalam suatu hubungan
profesional dengan kliennya. Seperti juga hal pekerja sosial harus memilih
kemampuan untuk memahami berbagai aspek pada klien serta lingkungan. Pemilikan
sikap profesional tersebut merupakan proses dan merupakan hasil belajar dari
para pekerja sosial itu sendiri baik dari penelaahannya maupun pengalamannya
secara praktis. Pemilikan sikap tersebut tidak diragukan lagi dalam proses
pemberian bantuan, sehingga hubungan pemberian bantuan bukan diciptakan oleh teknik-teknik pemberian bantuan melainkan
oleh pemberi bantuan itu sendiri dalam hal ini adalah pekerja sosial
profesional.
Kerangka nilai pekerjaan sosial juga berfungsi sebagai
filter di dalam
upaya pengadopsian maupun pengembangan aspek-aspek ilmu pengetahuan yang tidak
sesuai atau bertentangan dengan nilai-nilai yang berlaku di dalam masyarakat dimana praktik pekerjaan sosial dilakukan. Nilai-nilai yang bersumber dari kerangka
pengetahuan ilmiah pekerjaan sosial yang turut melengkapi kerangka nilai
pekerjaan sosial dapat dikelompokkan sebagai berikut:
1.
Nilai tentang konsepsi
orang yang mencakup:
a.
Pekerja sosial percaya bahwa setiap orang mempunyai
hak dan kesempatan yang sama untuk menentukan dirinya sendiri.
b.
Setiap orang mempunyai kemampuan dan dorongan untuk
berubah, sehingga dapat lebih meningkatkan taraf hidupnya.
c.
Setiap orang mempunyai tanggungjawab kepada dirinya
dan juga kepada orang lain di dalam
masyarakat.
d.
Orang memerlukan pengakuan dari orang lain.
e.
Manusia mempunyai kebutuhan dan setiap
orang pada prinsipnya unik serta berbeda dengan orang lainnya.
2.
Nilai tentang masyarakat yang perlu menyediakan
hal-hal yang dibutuhkan oleh setiap orang yang
mencakup:
a.
Masyarakat perlu memberikan kesempatan bagi
pertumbuhan dan perkembangan setiap orang agar mereka dapat merealisasikan
semua potensinya.
b.
Masyarakat perlu menyediakan sumber-sumber dan
pelayanan-pelayanan untuk membantu orang memenuhi kebutuhan mereka dan
menghadapi atau memecahkan permasalahan yang dialami.
c.
Orang perlu diusahakan agar mempunyai kesempatan yang
sama untuk berpartisipasi di dalam
masyarakatnya.
3.
Nilai yang berkaitan dengan interaksi antar orang,
yang mencakup:
a.
Pekerja sosial percaya bahwa orang yang mengalami
masalah perlu dibantu (oleh orang lain).
b.
Pekerja sosial percaya bahwa di dalam usaha
memecahkan masalah orang/klien perlu respek dan diberi kesempatan untuk
menentukan nasibnya sendiri.
c.
Pekerja sosial percaya bahwa orang yang perlu dibantu
dan diingatkan interaksinya dengan orang lain untuk membangun sesuatu. Masyarakat
yang mempunyai tanggungjawab untuk memenuhi kebutuhan setiap anggota/ warganya.[8]
KESIMPULAN
Pekerjaan sosial adalah suatu bidang
yang melibatkan interaksi diantara orang dengan lingkungan sosialnya yang
menggunakan kemampuan orang untuk menyelesaikan tugas-tugas kehidupan mereka,
mengatasi penderitaan, dan mewujudkan aspirasi-aspirasi serta nilai-nilai
mereka. Pada umumnya
dalam relasi antara pekerja sosial dengan klien ada prinsip-prinsip yang harus
diperhatikan oleh pekerja sosial terutama
ketika menerapkan metode bimbingan perseorangan, yaitu: penerimaan, komunikasi, individualisasi, partisipasi, dan kerahasiaan.
Untuk menjadi seorang pekerja sosial
profesional haruslah memiliki komponen-komponen
keahlian dasar yang terdiri atas: pengetahuan,
keterampilan, dan sikap profesional. Dengan bekal
komponen-komponen
dasar tersebut baik yang didapat dari pendidikan formal maupun dari
pengalaman-pengalaman praktiknya maka
pekerjaan sosial
profesional diharapkan dan dituntut untuk memecahkan masalah-masalah sosial
yang timbul.
Dalam praktiknya, pekerja
sosial dituntut untuk mengenali, memahami, serta menginternalisasikan beberapa
nilai yaitu: penerimaan
(acceptance), komunikasi
(communication), partisipasi
(participation), bersikap
adil, tidak terlalu memuji ataupun mencela, menghargai kerahasiaan
dari privacy kliennya, mawas diri pada pekerja sosial, memakai rasio
dalam memberikan tanggapan yang objektif serta fleksibel.
[1] Isbandi
Rukminto Adi, Psikologi Pekerjaan Sosial
dan Ilmu Kesejahteraan Sosial, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1994),
hal. 10.
[3]
Isbandi Rukminto Adi, Psikologi
Pekerjaan Sosial dan Ilmu Kesejahteraan Sosial, (Jakarta: PT. Raja Grafindo
Persada, 1994), Hal 16-19
[4] Dudung Abdurroup, Komponen Kemampuan Dasar Profesi Pekerjaan
Sosial, (Bandung: FISIP UNLA),
hlm. 7-8.
[6]
Dudung Abdurroup, Komponen Kemampuan Dasar Profesi Pekerjaan
Sosial, (Bandung: FISIP UNLA), hlm. 10.
[8]
https://mohammadafandi.wordpress.com/2009/03/18/sekilas-pekerja-sosial/
No comments:
Post a Comment