Tuesday, June 3, 2014

MENGKAJI JURNAL MANAJEMEN SUMBER DAYA MANUSIA

                                      BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Pendidikan mempunyai peranan penting dalam meningkatkan kulaitas Submer Daya Manusia. kesadaran akan pentingnya pendidikan sebagai proses mencerdaskan bangsa telah mendorong masyarakat untuk melakukan perbaikan mutu pendidikan. Manajemen pendidikan menghasilkan manusia pembelajar yang merupakan human kapital dan memiliki keterkaitan erat dengan kompetensi dan talen manajemen yang berkonstribusi pada organisasi belajar. Organisasi belajar berimplikasi terhadap lahirnya manajemen sumber daya manusia yang profesional dan dapat mewujudkan karakteristuk good governance.
Pendidikan mempunyai peranan penting dalam meningkatkan kualitas modal insani yaitu Sumber Daya Manusia. Kesadaran akan pentingnya pendidikan sebagai proses mencerdaskan bangsa telah mendorong masyarakat untuk melakukan upaya perbaikan mutu pendidikan. Tiga tantangan besar yang dihadapi dunia pendidikan di indonesia pada saat ini. Pertama,sebagai akibat dari krisis ekonomi,dunia pendidikan dituntut untuk dapat mempertahankan hasil-hasil pembangunan pendidikan yang telah dicapai. Kedua,untuk mengantisipasi era gelobal,dunia pendidikan dituntut mempersiapkan SDM yang kompeten agar mampu bersaing dalam pasar gelobal. Katiga,sejalan dengan diperlakukannya otonomi daerah,perlu dilakukan perubahan dan penyesuaian sistem pendidikan nasional sehingga dapat mewujudkan proses pendidikan yang lebih demokratis dengan memperhatikan keberagaman kebutuhan peserta didik dan daerah serta mendorong peningkatan partisipasi masyarakat (dalam sylviana murni,2005).
Seroang ahli filsafat Emmanuel kant mengatakan bahwa pendidikanadalah pangkal ilmu pengetahuan yang menjadi pokok dalam pangkal dari segala kehidupan (dalam sylvina murni,2007). Oleh karena itu betapa pentingnya pendidikan dalam mencapai masyarakat yang mandiri dalam abad yang penuh tantangan global ini. Untuk mencapai SDM tersebut diperlukan pengembangan dan perubahan paradigma bahwa pemulihan akan berhasil apabila ditunjang dengan SDM yang berkualitas. Sebagai suatu kebijakan yang mendasar dalam menjalankan suatu kegiatan,cara yang tepat dalam melakukan peningkatan mutu dan kualitas manusia indonesia adalah dengan cara melakukan investasi pendidikan.
BAB II
KAJIAN TEORI

E-learning merupakan singkatan dari Elektronic Learning, merupakan cara baru dalam proses belajar mengajar yang menggunakan media elektronik khususnya internet sebagai sistem pembelajarannya. E-learning merupakan dasar dan konsekuensi logis dari perkembangan teknologi informasi dan komunikasi. Beberapa ahli mencoba menguraikan pengertian e-learning menurut versinya masing-masing, diantaranya :
  • Jaya Kumar C. Koran (2002), e-learning sebagai sembarang pengajaran dan pembelajaran yang menggunakan rangkaian elektronik (LAN, WAN, atau internet) untuk menyampaikan isi pembelajaran, interaksi, atau bimbingan.
  • Dong (dalam Kamarga, 2002)
e-learning sebagai kegiatan belajar asynchronous melalui perangkat
elektronik komputer yang memperoleh bahan belajar yang sesuai dengan kebutuhannya.
  • Rosenberg (2001)
 menekankan bahwa e-learning merujuk pada penggunaan teknologi internet untuk mengirimkan serangkaian solusi yang dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan
  • Darin E. Hartley [Hartley, 2001]
eLearning merupakan suatu jenis belajar mengajar yang memungkinkan tersampaikannya bahan ajar ke siswa dengan menggunakan media Internet, Intranet atau media jaringan komputer lain.
  • LearnFrame.Com dalam Glossary of eLearning Terms [Glossary, 2001]
eLearning adalah sistem pendidikan yang menggunakan aplikasi elektronik untuk mendukung belajar mengajar dengan media Internet, jaringan komputer,maupun komputer standalone.
E-learning dalam arti luas bisa mencakup pembelajaran yang dilakukan di media elektronik (internet) baik secara formal maupun informal. E-learning secara formal misalnya adalah pembelajaran dengan kurikulum, silabus, mata pelajaran dan tes yang telah diatur dan disusun berdasarkan jadwal yang telah disepakati pihak-pihak terkait (pengelola e-learning dan pembelajar sendiri). Pembelajaran seperti ini biasanya tingkat interaksinya tinggi dan diwajibkan oleh perusahaan pada karyawannya atau pembelajaran jarak jauh yang dikelola oleh universitas dan perusahaan-perusahaan (biasanya perusahaan konsultan) yang memang bergerak dibidang penyediaan jasa e-learning untuk umum.
Sumber daya manusia atau biasa disingkat menjadi SDM potensi yang terkandung dalam diri manusia untuk mewujudkan perannya sebagai makhluk sosial yang adaptif dan transformatif yang mampu mengelola dirinya sendiri serta seluruh potensi yang terkandung di alam menuju tercapainya kesejahteraan kehidupan dalam tatanan yang seimbang dan berkelanjutan. Dalam pengertian praktis sehari-hari, SDM lebih dimengerti sebagai bagian integral dari sistem yang membentuk suatu organisasi.
Kata governance berasal dari kata to govern (yang berbeda maknanya dengan to command atau to order) yang artinya memerintah. Istilah Good Governance telah diterjemahkan dalam berbagai istilah, misalnya penyelenggaraan pemerintahan yang amanah (Bintoro Tjokroamidjojo), tata-pemerintahan yang baik (UNDP), pengelolaan pemerintahan yang baik dan bertanggung jawab (LAN). Sedangkan kata Government atau pemerintah dalam kamus oxford berasal dari kata govern yang artinya legally control and run a country, city , atc”. alam bahasa Inggris diartikan : "The authoritative direction and administration of the affairs or men/women in a natoon, state, city, etc". Pemerintah adalah pengarahan yang berkewenangan dan pengaturan atas kegiatan orang-orang dalam sebuah negara, negara bagian, kota, dan sebagainya. Dapat diartikan juga sebagai lembaga atau badan yang menyelenggarakan pemerintahan negara, negara bagian, kota, dan sebagainya.
Dari pengetian diatas dapat ditarik makna lain bahwa good governance merupakan seni atau gaya moral pemerintahan yang baik, lebih memerlukan suatu butir-butir moral-legal dalam pelaksanaannya.




BAB III
ISI

Fakta empirik menunjukan bahwa kualitas pendidikan di Indonesia relatif masih rendah sehingga menyebabkan Indonesia sulit bersaing dengan bangsa-bangsa lain. Kualitas pendidikan suatu bangsa ditentukan oleh dua faktor, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internalnya adalah meliputi jajaran dunia pendidikan seperti Depdiknas dan Dinas Pendidikan Daerah. Faktor ekternalnya adalah masyarakat.
Bangsa yang besar terwujud apabila ditopang oleh manusia yang berkualitas dan untuk mewujudkan hal tersebut melalui pendidikan SDM  yang berkualitas juga. Dengan menerapkan manajemen mutu terpadu (total quality managemen) secara konsisten yang diharapkan dapat memberi solusi yang dapat membantu menghadapi keterpurukan dunia pendidikan.  Salah satu bentuk manajemen yang berhasil di manfaatkan dalam dunia industri dapat diadaptasi dalam dunia pendidikan adalah TQM (Total Quality Managenent) dimana dalam dunia pendidikan sering disebut TQME (Total Quality Management in Education). Manajemen mutu terpadu adalah salah satu pendekatan dalam menjalankan usaha yang mencoba memaksimalkan daya saing pendidikan melalui perbaikan terus menerus.
Dalam manajemen mutu terpadu keberhasilan sekolah diukur dari tingkat kepuasan pelanggan baik internal maupun eksternal. Dilihat jenis pelanggannya, sekolah dikatakan berhasil jika, antara lain :
1.      Siswa puas dengan pelayanan sekolah, antara lain puas dengan pelajaran yang diterima, puas dengan perlakuan guru maupun pimpinan maupun puas dengan fasilitas yang disediakan.
2.      Orangtua puas dengan pelayanan terhadap anaknya maupun puas dengan layanan terhadap orang tua
3.      Pihak pemakai penerima lulusan (perguruan tinggi, industri, masyarakat) puas karena menerima lulusan yang sesuai harapan
4.      Guru dan karyawan puas dengan layanan yang diberikan sekolah.
Tampubolon menyatakan bahwa tiga sistem yang berkembang dalam manajemen mutu adalah pengawasan mutu, jaminan mutu dan manajemen mutu terpadu.
Penggunaan TQM dalam pendidikan seringkali mendapatkan masalah di lapangan, antara lain:
1.      Sikap mental para pengelola pendidikan
2.      Tidak adanya tindak lanjut dari evaluasi program
3.      Gaya kepemimpinan yang tidak mendukung
4.      Kurangnya rasa memiliki para pelaksana pendidikan
5.      Belum membudayakan prinsip melakukan sesuatu secara benar dari awal.
Humanisasi pendidikan merupakan hal salah satu hal yang penting di lakukan karena yang diutamakan dalam pendidikan adalah manusia. Paulo freire menyatakan bahwa dialog harus berdasarkan terutama pada kepekaan kemampuan bawaan dalam tiap manusia untuk menentukan dirinya sendiri. Pembelajaran hendaknya mencakup aspek yang luas, mencakup pembelajaran adaptif pembelajaran generatif dan pembelajaran deutero. Pembelajaran adaptif (single loop) menenkankan pada bagaimana memperbaiki keadaan yang ada. Pembelajaran generatif (double-loop) merupakan pembelajaran yang mengarah pada perubahan transformasi, mencakup perubahan norma atau strategi serta asumsi yang berkaitan dengan norma organisasi. Pembelajaran deutero (deuterolearning)  adalah pembelajaran yang menekankan pada prinsip. “pembelajaran untuk belajar” yang mengutamakan proses belajar dan menuntut organisasi untuk belajar. Pendidikan bertujuan menfasilitasi perkembangan bakat peserta didik sesuai kodratnya dan menjaga agar unsur-unsur destruktif dari luar tidak menghambat atau membunuh bakat peserta didik sehingga peserta didik setidaknya dibimbing sesuai kodrat alamnya. Pendidikan terkait pula dengan modal manusia (human capital) merupakan istilah yang umum digunakan dalam pengelola sumber daya manusia terwujud SDM yang profesional. Human capital menurut Lev, Baruch (2001) merupakan faktor manusia dalam organisasi yang mencakup intelegensi, ketrampilan dan keahlian yang memberikan karakter khas pada organisasi sehingga mempengeruhi organisasi secara keseluruhan.
Pembelajaran yang menyenangkan (joyful learning) merupakan strategi, konsep, dan praktik pembelajaran merupakan strategi dari pembelajaran bermakna, pembelajaran konstektual, teori konstrukstivisme, perkembangan aktif dan psikologi perkembangan anak. Proses transformasi paradigma pembelajaran dari teacher-centered menuju student-centered bukan lagi pengajar yang aktif memberikan materi tetapi disini mahasiswa dilatih berfikir secara aktif dan kritis.
Tidak ada metode standar dalam pembelajaran yang menyenangkan ini. Konsep pendidikan hendaknya mengarah pada pendidikan yang memerdekakan dengan metode joyful learning. Metode ini mampu melahirkan manusia yang dapat berpikir kritis.
            Ketika kebanyakan orang memiliki sprektrum kecerdasan yang penuh, setiap individu menunjukan perbedaan ciri-ciri kongnitif maka terdapat tujuh jenis kecerdasan yang berdeda-beda dan penggunaannya dengan cara-cara yang sangat personal. Howard garner (1983-1993) tidak memandang kecerdasan manusia berdasarkan atas sekor tes semata namun menjelaskan kecerdasan sebagai berikut:
1.      Kemempuan untuk menyelesaikan masalah yang terjadi dalam kehidupan manusia
2.      Kemampuan untuk menghasilkan persoala-persoalan baru yang untuk diselesikan
3.      Kemampuan untuk menciptakan sesuatu atau menawarkan jasa yang akan menimbulkan penghargaan dalam budaya seorang.
4.      Kecerdasan kinestik tubuh memungkinkan seseorang untuk mengerakan objek dan keterampilan fisik yang halus dan jelas
5.      Kecerdasan musik terlihat pada orang  yang memiliki sensitifitas pada pola titi nada melodi,ritme dan nada.
6.      Kecerdasan interpersonal merupakan kemempuan untuk memahami dan berinteraksi dengan orang lain secara efektif.
7.      Kecerdasan intrapersonal merupakan kemampuan untuk membuat persepsi yang akurat tentang diri sendiri dan menggunakan pengetahuan semacam itu dalam merncanakan dan mengarahkan kehidupan seorang.
8.      Kecerdasan naturalis merupakan kemampuan untuk mengenali membedakan,mengungkapkandan membuat katagori tentang hal-hal yang di jumpai di alam maupun di lingkungan.

            Richard weiner dalam Wehsters New Word Dictionary and communiation disebutkan bahwa media informasi adalah pemrosesan, pengolahan dan penyebaran data oleh kombinasi komputer dan teknologi komunikasi informasi(TIK) menitik beratkan bagimana data diolah dan diproses dengan menggunakan komputer dan telekomunikasi. Menganalisis penerapan TIK dalam menejemen pendididkan terus mengalami perkembangan yang cukup cepat dan dinamis, tidak terlepas dalam kaitannya dengan kecerdasan manusia dalam menyikapinnya. Peningkatan kemampuan SDM mulai dari ketrampilan dan pengetahuan, perencanaan, pengoperasian, perawatan dan pengawasan, serta meningkatkan kemampuan TIK para pimpinan dilembaga pemerintahan, pendidikan, perusahaan dan lembaga lainnya. Peran TIK dalam menunjang kebijakan pendidikan mencangkup ketiga pilar kebijakan Depdiknas yaitu :
1.      Perluasan dan pemerataan akses pendididkan
2.      Peningkatan mutu, relevansi, dan daya saing pendidikan dan
3.      Penguatan tata kelola akuntabilitas dan citra publik pendidikan
E-Learning merupakan kegiatan belajar melalui perangkat elektronik komputer yang tersambung keinternet dimana belajar berupaya memperoleh bahan pelatihan secara on line, memperkaya nilai belajar sehingga dapat menjawab tantangan perkembangan globalisasi. Seiring dengan kemajuan teknologi tersebut telepon genggam(hp) saat ini digunakan mengakses internet tanpa perlu menghadirkan komputer.
Clean and good governance
            Pengertian clean and good governance menurut world bank dalam   mustopadjaja 2001 adalah suatu penyelanggaraan manajemen yang solid dan bertanggung jawab sejalan dengan prinsip demokrasi dan pasar yang efisien,penghindaran salh alokasi dana investasi,dan pencegahan korupsi baik secara politik maupun administratif. Dalam tat pemerintahan pengertian istilah clean and good governance pada umumnya diartikan sebagai penyelenggaraan pemerintahan yang bersih dan bailk. Kata bersih dan baik disini di masudkan mengikuti kaidah-kaidah tertentu sesuai prinsip-prinsip dasar clean and good governance. Dimana prinsip-prinsip tersebut merupakan kunci utama dalam memahami istilah clean and good governance. Selain itu istilan clean and good governance merupakan suatu gagasan.













DAFTAR PUSTAKA


Murni Syiviana,1995,junal pendidikan dan Kebudayaan,Jakarta,Badan Penelitian dan pengembangan departemen Pendidikan Nasional.

e-dufiesta.blogspot.sg/2008/06/pengertian-e-learning.html

id.wikipedia.org/wiki/Sumber_daya_manusia

hukumislam-uii.blogspot.sg/2009/05/pengertian-good-governance-dan-clean.html
                                                                                                                                                                   

Wednesday, April 16, 2014

Ilmu Alamiah Dasar


SURAT ALI IMRAN AYAT 190-191

žcÎ)ÎûÈ,ù=yzÏNºuq»yJ¡¡9$#ÇÚöF{$#urÉ#»n=ÏF÷z$#urÈ@øŠ©9$#Í$pk¨]9$#ur;M»tƒUyÍ<'rT[{É=»t6ø9F{$#ÇÊÒÉÈ
tûïÏ%©!$#tbrãä.õtƒ©!$#$VJ»uŠÏ%#YŠqãèè%ur4n?tãuröNÎgÎ/qãZã_tbr㍤6xÿtGtƒurÎûÈ,ù=yzÏNºuq»uK¡¡9$#ÇÚöF{$#ur$uZ­/u$tB|Mø)n=yz#x»ydWxÏÜ»t/y7oY»ysö6ß$oYÉ)sùz>#xtãÍ$¨Z9$#ÇÊÒÊÈ
190.  “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal”,
191.  “(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan Ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, Maka peliharalah kami dari siksa neraka”.
v  Tafsir menurut mufasirin
1.      Ibnu Katsir
Ayat 190-191 surat Ali Imran merupakan penutup surat Ali Imran. Ini antara lain terlihat pada uaian-uraiannya yang bersifat umum. Setelah dalam  ayat-ayat  lalu mengurai hal-hal yang rinci, sebagaimana terbaca pada ayat 189 yang menegaskan kepemilikan Allah Swt. Atas alam raya. Maka pada ayat yang ke-190-191 Allah menguraikan sekelumit dari penciptaan-Nya, serta memerintahkan agar memikirkannya.
Salah satu bukti kebenaran bahwa Allah merupakan Sang Pemilik atas alam raya ini, dengan adanya undangan kepada manusia untuk berpikir, karena sesungguhnya dalam penciptaan, yakni kejadian benda-benda angkasa, seperti matahari, bulan dan jutaan gugusan bintang-bintang yang terdapat dilangit, atau dalam pengaturan sistem kerja langit yang sangat teliti serta kejadian dan perputaran bumi pada porosnya yang melahirkan silih bergantinya malam dan siang, perbedaannya baik dalam masa maupun panjang dan pendeknya terdapat tanda-tanda kemahakuasaan Allah bagi ulul albab, yakni orang orang yang memiliki akal yang murni.
            Kata (الباب) al-bab adalah bentuk jamak dari (لب) lub yaitu “saripati” sesuatu. Kacang misalnya, memiliki kulit yang menutupi isinya. Isi kacang dinamai lub. Ulul albab adalah orang-orang yang memiliki akal yang murni, yang tidak diselubungi oleh “kulit”, yakni kabut ide yang dapat melahirkan kerancuan dalam berpikir. Orang yang merenungkan tentang penomena alam raya akan dapat sampai kepada bukti yang sangat nyata tentang keesaan dan kekuasaan Allah Swt.
            Ayat ini mirip dengan ayat 164 surat Al-Baqarah, hanya saja di sana disebutkan delapan macam ayat-ayat Allah, sedang di sini hanya tiga. Bagi kalangan sufi, pengurangan ini disebabkan karena memang pada tahap-tahap awal, seorang salik yang berjalan menuju Allah membutuhkan banyak argumen akliyah. Akan tetapi, setelah melalui beberapa tahap, yakni ketika kalbu telah memperolah kecerahan, maka kebutuhan akan argumen aqliyah semakin berkurang, bahkan dapat menjadi halangan bagi kalbu untuk terjun ke samudra ma’rifat. Selanjutnya, kalau bukti-bukti yang disebutkan di sana adalah hal-hal yang terdapat di langit dan di bumi, maka penekanannya di sini adalah pada bukti-bukti yang terbentang di langit. Ini karena bukti-bukti di langit lebih menggugah hati dan pikiran, seta lebih cepat mengantar seseorang meraih rasa keagungan ilahi.

2.      Quraisy Shihab
Ayat ini dan ayat-ayat selanjutnya menjelaskan sebagian dari ciri-ciri orang yang dinamai ulul albab yang telah disebutkan pada ayat yang lalu. Mereka adalah orang-orang baik laki-laki maupun perempuan yang terus mengingat Allah dengan ucapan atau hati, dan dalam seluruh situasi dan kondisi, saat bekerja sambil berdiri atau duduk atau keadaan berbaring atau bagaimanapun, dan mereka memikirkan tentang penciptaan yakni kejadian dan sistem kerja langit dan bumi, dan setelah itu berkata sebagai kesimpulan; Tuhan kami tiadalah engkau menciptakan alam raya dan segala isinya ini dengan sia-sia tanpa tujuan yang hak. Apa yang kami alami, atau dengar dari keburukan atau kekurangan, Maha Suci Engkau dari semua itu. Itu adalah ulah atau dosa dan kekurangan kami yang dapat menjerumuskan kami kedalam siksa neraka, maka peliharalah kami dari siksa neraka. Karena, Tuhan kami “Kami tahu dan sangat yakin bahwa sesungguhnya siapa yang engkau masukan kedalam neraka, maka sungguh telah engkau hinakan ia dengan mempermalukannnya di hari kemudian seabagai seorang serta menyiksanya dengan siksa yang pedih. Tidak ada satupun yang dapat membelanya, dan tidak ada bagi orang-orang yang dzalim. Siapapun ia, satu penolongpun”.
Di atas terlihat bahwa objek dzikir adalah Allah, sedang objek pikir adalah makhluk-makhluk Allah berupa fenomena alam. Ini berarti bahwa pengenalan kepada Allah lebih banyak dilakukan oleh kalbu. Sedangkan pengenalan alam raya didasarkan pada penggunaan alam, yakni berpikir. Akal memiliki kebebasan seluas-luasnya untuk memikirkan fenomena alam, tetapi ia memiliki keterbatasan dalam memikirkan Dzat Allah. Hal ini dipahami dari sabda Rasullah Saw. yang diriwayatkan oleh Abu Nu’aim melalui Ibnu Abbas: “Berpikirlah tentang makhluk Allah dan jangan berpikir tentang Allah“.

Manusia yang membaca lembaran alam raya niscaya akan mendapatkan Allah sebelum manusia mengenal peradaban mereka yang menempuh jalan ini telah menemukan kekuatan itu (Allah Swt). Walau nama yang disandangkan untuknya bermacam-macam seperti; Penggerak Pertama, Yang Maha Mutlak, Pencipta Alam, Kehendak Mutlak, Yang Maha Kuasa, dan sebagainya. Bahkan seandainya mata tidak mampu membaca lembaran alam raya, maka mata hati dan cahayanya akan menemukannya karena memandang atau mengenal Tuhan ada dalam jangakauan kemampuan manusia melalui lubuk hatinya. Bahkan, bila manusia mendengar suara nuraninya dengan “telinga terbuka” pasti ia akan mendengar “suara Tuhan” yang menyerunya ini disebabkan karena kehadiran Allah dan keyakinan akan keesaannya, adalah fitrah yang menyertai jiwa manusia.
Fitrah itu tidak bias dipisahkan dari manusia meskipun mungkin tingkatannya berbeda sekali waktu pada seseorang ia sedemikian kuat, terang cahayanya melebihi sinar matahari dan pada saat yang lain atau pada orang lain ia begitu lemah dan redup. Namun demikian sumbernya tidak lenyap, akarnyapun mustahil tercabut.
Suatu ketika menjelang ruh manusia dicabut dari tubuhnya fitrah keagamaan itu muncul sedimikian kuat dan jelas.
            Seandainya manusia merasa puas dengan perasaan atau informasi jiwa dan intuisinya dalam mencari dan berkenalan dengan Tuhan, niscaya banyak jalan yang dapat disingkirkannya tetapi manusia tidak semuanya mampu berbuat demikian. Banyak juga orang yang menempuh jalan yang berliku-liku, memasuki lorong-lorong yang sempit untuk melayani rayuan akal yang sering mengajukan aneka pertanyaan “ilmiah” sambil mendesak untuk memperoleh jawaban yang memuaskan nalar.
            Bagi yang puas degan informasi intuisi, ia akan merasakan ketenangan dan kedamaian bersama kekuatan yang Maha Agung, siapapun yang dyakininya tanpa mendiskusikan apakah pengenalan mereka benar apa keliru.
            Islam tidak menolak melayani desakan akal atau dorongan nalar. Bukankah telah beragam argumen akliyah yang dipaparkan bersamaan dengan sentuhan-sentuhan rasa guna membuktikan keesaannya? Bukanya Al-qur’an menguji ulul albab yang berdzikir dan berpikir tentang kejadian langit dan bumi?   bukankah dia telah memerintahkan untuk memandang alam dan fenomenanya dengan pandangan nadzar atau nalar serta memikirkannya?  Bukankah bukti-bukti kehadirannya dipaparkan sedemikian jelas melalaui berbagai pendekatan? Tetapi  sekali lagi akal manusia sering kali tidak puas hanya sampai pada titik dimana wujudnya terbukti akal manusia sering kali mengenal dzat dan hakikatnya, bahkan ingin melihatnya dengan mata kepala, seakan-akan Tuhan adalah sesuatu yang dapat terjangkau oleh panca indra.
            Oleh karena itu, disinilah letak kesalahan bahkan letak bahaya. Karena inilah banyak pemikir jatuh tersungkur ketika mereka menuntut kehadirannya melebihi kehadiran bukti-bukti wujudnya seperti kehadiran alam raya dan teraturanya  bahakan disanalah bergelimpangan korban orang-orang yang tidak puas dengan pengenalan rasa atau yang mendesak meraih pengetahuan tentang Tuhan melebihan informasi Tuhan sendiri seandainya mereka menempuh cara yang mereka gunakan ketika merasa takut kepada harimau, tanpa melihat wujudnya  cukup degan mendengar raungnya atau seandainya mereka berinteraksi dengan Tuhan sebagai mana berinteraksi dengan matahari mendapatkan kemanfaatan dan kehangatan cahayanya tanpa harus mengenal hakekatnya, maka banyak daya dan waktu yang dapat digunakan untuk hal-hal yang bermanfaat tapi sekali lagi tidak semua manusia sama.
            Di atas telah dijelaskan makna firman-Nya, rabbana maa khalakta hadza batthilan / Tuhan kami, tiadalah engkau menciptakan ini dengan sia-sia, bahwa ia adalah sebagai natijah dan kesimpulan upaya dzikir dan pikir. Dapat juga dipahami dzikir dan pikir tersebut mereka lakukan sambil membayangkan dalam benak mereka bahwa alam raya tidak diciptakan Allah sia-sia.
            Penggalan ayat tersebut dipahami juga sebagai bagian dari ucapan mereka dengan ucapan: sesungguhnya siapa yang engkau masukkan ke dalam neraka… dan seterusnya, sehingga berarti bahwa mereka berdzikir dan berpikir seraya berkata Tuhan kami, tiadalah engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Memang pendapat ini dapat dibantah dengan menyatakan: “Bukankah ulul albab itu banyak sehingga bagaimana mungkin mereka sepakat mengucapkan kata itu?” keberatan ini ditampak oleh pendukung pendapat tersebut dengan menyatakan bahwa ucapan itu mereka tiru atau diajarkan oleh Rasul Saw.
            Quraish Shihab memahami kalimat tersebut sebagai hasil dzikir dan pikir, dengan demikian ia tidak dapat dihadang oleh keberatan di atas. Di sisi lain, hasil itu akan sangat serasi dengan permohonan mereka selanjutnya. Yakni karena semua makhluk tidak diciptakn sia-sia, karena ada makhluk yang baik dan yang jahat, ada yang durhaka dan ada pula yang taat, di mana tentu saja yang durhaka akan dihukum maka mereka memohon perlindungan dari siksa neraka mereka selanjutnya berusaha untuk menjadi makhluk yang baik dan taat.
            Ayat di atas mendahulukan dzikir atas pikir karena dzikir mengingat Allah dan menyebut nama-nama dan keagungannya. Hati akan menjadi tenang dengan ketenangan pikiran akan menjadi cerah bahkan siap untuk memperoleh limpahan ilham dan bimbingan ilahi.
            Didahulukannya kata “subhanaka” yang diterjemahkan sebagai “maha suci engkau“, atas permohonan terpelihara dari siksa neraka. Mengajarkan bagaimana seharusnya bermohon, yaitu mendahulukan pensucian Allah dari segala kekurangan dengan memujinya sebelum mengajukan permohonan. Hal ini dimaksudkan agar si pemohon menyadari nikmat Allah yang telah melimpah kepadanya sebelum adanya permohonan sekaligus untuk menampi segala perasangka ketidakadilan dan kekurangan terhadap Allah apabila ternyata permohonan belum diperkenankannya.
            Ayat di atas juga menunjukan bahwa semakin banyak hasil yang diperoleh dari dzikir dan pikir dan semakin luas pengetahuan tentang alam raya akan semakin dalam pula rasa takut kepadanya, hal ini antara lain tercemin pada permohonan untuk dihindarkan dari siksa neraka. Seperti firman-Nya: “sesungguhnya yang takut kepada Allah diantara hamba-hambanya hanyalah para ulama/ cendekiawan “(QS. Fathir : 28)
     

Kesimpulan QS. Ali Imran Ayat 190-191
            Kesimpulan dari isi QS. Ali Imran ayat 190-191 yang berdasarkan penjelasan mufassir yang dikemukakan di atas menunjukkan bahwa Allah menegaskan kepada umat manusia dengan memberikan perumpamaan agar dapat dipetik hikmah atau pelajaran dengan menjelaskan sebagian dari ciri-ciri orang yang dinamai-Nya ulul albab, yakni :
1.    Orang orang yang memiliki akal yang murni baik laki-laki maupun perempuan yang merenungkan tentang fenomena alam raya akan dapat sampai kepada bukti yang sangat nyata tentang keesaan dan kekuasaan Allah Swt.
2.    Orang-orang yang terus mengingat Allah dengan ucapan atau hati, dan dalam seluruh situasi dan kondisi, saat bekerja sambil berdiri atau duduk atau keadaan berbaring atau bagaimanapun, dan mereka memikirkan tentang penciptaan yakni kejadian dan sistem kerja langit dan bumi, dan
3.    Orang-orang setelah melihat dan memikirkan itu semua, mereka berkata sebagai kesimpulan terhadap ciptaan-Nya, yakni “Tuhan kami tiadalah engkau menciptakan alam raya dan segala isinya ini dengan sia-sia tanpa tujuan yang hak”.

mamz bager