Mendengar Aktif
Oleh: Laila Septiana
Rohmah
Konseling
merupakan pemberian bimbingan atau bantuan dari seorang ahli (konselor) kepada
seseorang yang membutuhkan bantuan atau yang sedang menghadapi masalah (klien)
agar dapat menyelesaikan sendiri masalahnya. Sebelum melakukan sesi konseling,
terdapat keterampilan-keterampilan yang harus dikuasai oleh seorang konselor.
Keterampilan-keterampilan yang digunakan ketika sesi konseling diantaranya
yaitu parafrasa, refleksi perasaan, mendengar aktif, penggunaan pertanyaan
terbuka dan tertutup, konfrontasi, dan masih banyak lagi. Agar konselor dapat
mengerti dan merasakan apa yang klien rasakan, konselor harus memahami apa yang
klien katakan. Untuk memahami apa yang sedang klien sampaikan konselor harus
mendengarkan dengan seksama apa yang klien katakan. Sebelumnya sudah disebutkan
bahwa salah satu keterampilan dalam konseling yaitu mendengar aktif. Disini
kita akan membahas tentang mendengar aktif.
Mendengarkan
secara aktif (aktif listening) adalah mengenai cara membangun rapport,
pengertian dan kepercayaan. Rapport adalah istilah dalam bahasa Inggris yang
artinya hubungan baik antara. Dalam ruang lingkup konseling, rapport merupakan
sebuah hubungan baik antara konselor dan klien. Pengertian tersebut terdapat
pada artikel yang ditulis oleh Muna Erawati dengan judul Seni Mendengarkan
Aktif. Di artikel tersebut juga disebutkan bahwa seorang guru perlu menguasai
keterampilan mendengar aktif untuk membantu murid-muridnya mengembangkan
potensi secara optimal. Agar kegiatan membantu guru dapat berlangsung dengan
baik, guru harus meluangkan waktu untuk mendengarkan cerita yang disampaikan
oleh muridnya.
Ketika
sesi konseling, konselor tidak hanya sekedar mendengarkan apa yang klien
sampaikan, tetapi juga harus aktif mengikuti pola pemikiran klien yang sedang
menceritakan permasalahnya. Dengan begitu, konselor dapat mengetahui apa yang
dirasakan oleh klien dan dapat mengajukan pertanyaan-pertanyan lain yang dapat
membuat klien menceritakan semua permasalahannya dan dapat menyelesaikan
permasalahannya. Seorang konselor yang tidak mampu mendengarkan dengan sabar
saat kliennya menceritakan keluh kesah dan perasaanya, akan sulit membantu menyelesaikan
masalah kliennya. Mendengarkan merupakan salah satu hal yang penting dalam
konseling, karena jika salah mendengarkan dapat menyebabkan kesalahpahaman
antara konselor dan klien. Konselor harus teliti dan seksama saat mendengarkan
kliennya yang sedang bercerita agar memiliki penafsiran atau pemikiran yang
sama tentang masalah yang telah diceritakan.
Seorang
konselor saat mendengarkan apa yang disampaikan oleh klien harus menunjukkan
rasa keseriusan, fokus, dan kepedulian terhadap klien. Karena seorang klien
membutuhkan perhatian saat ia sedang bercerita. Konselor harus tetap menjaga
kontak dengan klien entah itu kontak mata maupun kontak fisik, agar klien tetap
merasa dihargai dan diperhatikan oleh konselor. Ketika mendengarkan klien,
konselor juga dapat memberikan isyarat seperti memberikan respon-respon minimal
yang menandakan bahwa ia memahami apa yang klien ucapkan. Contoh dari respon
minimal diantaranya yaitu: Mm, Mm-hmm, Oh begitu, Ya, Tentu, Oke, Oh, dan
Benarkah.
Mendengar
aktif merupakan keterampilan dalam konseling yang disetiap sesi konseling harus
ada. Karena dengan mendengarkan secara aktif, seorang konselor dapat mengerti
dan merasakan apa yang klien rasakan. Saat mendengarkan, konselor tidak hanya
sekedar mendengarkan saja apa yang klien sampaikan, tetapi juga harus aktif
mengikuti pola pemikiran klien yang sedang menceritakan permasalahnya agar
konselor paham apa yang dirasakan oleh klien. Pada saat mendengarkan, konselor
juga harus menunjukkan keseriusan, fokus, dan kepedulian terhadap klien. Cara
yang dapat digunakan yaitu dengan tetap menjaga kontak mata maupun fisik dan
memberikan respon-respon minimal.
Referensi:
·
Kathryn
Gerldard dan David Gerldard. 2004. Membantu
Memecahkan Masalah Orang Lain Dengan Teknik Konseling. Yogyakarta: Pustaka
Pelajar.
·
. 2011. Keterampilan
Praktik Konseling. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
·
Muna
Erawati. 2013. Seni Mendengarkan Aktif.
IAIN Salatiga
·
Agoes
Dariyo. 2005. “Memahami Bimbingan, Konseling, Dan Terapi Perkawinan Untuk
Pemecahan Masalah Perkawinan”. (Jurnal Psikologi: Vol 3, No. 2)
No comments:
Post a Comment