Wednesday, December 30, 2015

mendengar aktif

Mendengar Aktif
Oleh: Laila Septiana Rohmah

Konseling merupakan pemberian bimbingan atau bantuan dari seorang ahli (konselor) kepada seseorang yang membutuhkan bantuan atau yang sedang menghadapi masalah (klien) agar dapat menyelesaikan sendiri masalahnya. Sebelum melakukan sesi konseling, terdapat keterampilan-keterampilan yang harus dikuasai oleh seorang konselor. Keterampilan-keterampilan yang digunakan ketika sesi konseling diantaranya yaitu parafrasa, refleksi perasaan, mendengar aktif, penggunaan pertanyaan terbuka dan tertutup, konfrontasi, dan masih banyak lagi. Agar konselor dapat mengerti dan merasakan apa yang klien rasakan, konselor harus memahami apa yang klien katakan. Untuk memahami apa yang sedang klien sampaikan konselor harus mendengarkan dengan seksama apa yang klien katakan. Sebelumnya sudah disebutkan bahwa salah satu keterampilan dalam konseling yaitu mendengar aktif. Disini kita akan membahas tentang mendengar aktif.  
Mendengarkan secara aktif (aktif listening) adalah mengenai cara membangun rapport, pengertian dan kepercayaan. Rapport adalah istilah dalam bahasa Inggris yang artinya hubungan baik antara. Dalam ruang lingkup konseling, rapport merupakan sebuah hubungan baik antara konselor dan klien. Pengertian tersebut terdapat pada artikel yang ditulis oleh Muna Erawati dengan judul Seni Mendengarkan Aktif. Di artikel tersebut juga disebutkan bahwa seorang guru perlu menguasai keterampilan mendengar aktif untuk membantu murid-muridnya mengembangkan potensi secara optimal. Agar kegiatan membantu guru dapat berlangsung dengan baik, guru harus meluangkan waktu untuk mendengarkan cerita yang disampaikan oleh muridnya.
Ketika sesi konseling, konselor tidak hanya sekedar mendengarkan apa yang klien sampaikan, tetapi juga harus aktif mengikuti pola pemikiran klien yang sedang menceritakan permasalahnya. Dengan begitu, konselor dapat mengetahui apa yang dirasakan oleh klien dan dapat mengajukan pertanyaan-pertanyan lain yang dapat membuat klien menceritakan semua permasalahannya dan dapat menyelesaikan permasalahannya. Seorang konselor yang tidak mampu mendengarkan dengan sabar saat kliennya menceritakan keluh kesah dan perasaanya, akan sulit membantu menyelesaikan masalah kliennya. Mendengarkan merupakan salah satu hal yang penting dalam konseling, karena jika salah mendengarkan dapat menyebabkan kesalahpahaman antara konselor dan klien. Konselor harus teliti dan seksama saat mendengarkan kliennya yang sedang bercerita agar memiliki penafsiran atau pemikiran yang sama tentang masalah yang telah diceritakan.
Seorang konselor saat mendengarkan apa yang disampaikan oleh klien harus menunjukkan rasa keseriusan, fokus, dan kepedulian terhadap klien. Karena seorang klien membutuhkan perhatian saat ia sedang bercerita. Konselor harus tetap menjaga kontak dengan klien entah itu kontak mata maupun kontak fisik, agar klien tetap merasa dihargai dan diperhatikan oleh konselor. Ketika mendengarkan klien, konselor juga dapat memberikan isyarat seperti memberikan respon-respon minimal yang menandakan bahwa ia memahami apa yang klien ucapkan. Contoh dari respon minimal diantaranya yaitu: Mm, Mm-hmm, Oh begitu, Ya, Tentu, Oke, Oh, dan Benarkah.    
Mendengar aktif merupakan keterampilan dalam konseling yang disetiap sesi konseling harus ada. Karena dengan mendengarkan secara aktif, seorang konselor dapat mengerti dan merasakan apa yang klien rasakan. Saat mendengarkan, konselor tidak hanya sekedar mendengarkan saja apa yang klien sampaikan, tetapi juga harus aktif mengikuti pola pemikiran klien yang sedang menceritakan permasalahnya agar konselor paham apa yang dirasakan oleh klien. Pada saat mendengarkan, konselor juga harus menunjukkan keseriusan, fokus, dan kepedulian terhadap klien. Cara yang dapat digunakan yaitu dengan tetap menjaga kontak mata maupun fisik dan memberikan respon-respon minimal.





Referensi:
·      Kathryn Gerldard dan David Gerldard. 2004. Membantu Memecahkan Masalah Orang Lain Dengan Teknik Konseling. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
·                                                              . 2011. Keterampilan Praktik Konseling. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
·      Muna Erawati. 2013. Seni Mendengarkan Aktif. IAIN Salatiga

·      Agoes Dariyo. 2005. “Memahami Bimbingan, Konseling, Dan Terapi Perkawinan Untuk Pemecahan Masalah Perkawinan”. (Jurnal Psikologi: Vol 3, No. 2)

No comments:

Post a Comment