Wednesday, December 30, 2015

LARANGAN MENIDAMKAN SAUDARA LEBIH DARI TIGA HARI

TAKHRIJ HADITS TENTANG
LARANGAN MENDIAMKAN SAUDARA LEBIH DARI TIGA HARI
DALAM KITAB TERJAMAH SHAHIH MUSLIM





MAKALAH
Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Terstruktur Ujian Akhir Semester
  Mata Kuliah              : Ulumul Hadis
Dosen Pengampu      : Waliko, MA
Oleh:
Imam Imanuddin      (1223101006)
Dakwah/5BKI


SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
PURWOKERTO
2014


PENELITIAN HADITS TENTANG
LARANGAN MENDIAMKAN SAUDARA LEBIH DARI TIGA HARI
Dalam Kitab Tarjamah Shahih Muslim
(Bab Adab)


عن عبد الله بن عمر أَنَّ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: لا يحلّ للهؤ من ان يهجر اخاه فوق ثلا ثة ايّام

Artinya:
Bersumber dari Abdullah bin Umar: Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: tidak halal bagi seorang mukmin mendiamkan saudaranya lebih dari tiga hari lamanya.[1]

LANGKAH-LANGKAH PENELITIAN HADITS
A.      Melakukan Kegiatan Takhirjul Hadits
Dalam melakukan kegiatan takhrijul Hadits ini metode yang digunakan adalah Takhirjul Hadits Bil Lafadz (penulisan Hadits melalu lafadz) dimana  kitab yang dijadikan sebagai rujukan adalah Mu’jam Mufakhrash Fi Al Fadz Al-Hadits An-Nabawy karangan Dr. A.J. Wensick (diterjemahkan dalam Bahasa Arab oleh Moh. Fu’ad Abdullah Baqi).
1.        Kitab Mu’jam Mufakhrash Fi Al Fadz Al-Hadits An-Nabawy[2]
Dengan lafadz (هجر) maka lafaz ini ditelusuri dalam kamus yang memuat lafadz, setelah diperoleh lafadz:
لاَ يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ, لمؤمن أنّه, أن يهجر أخاه فوق ثلاث, ثلاثة (ايام, ليال)
Dibagian itu terdapat petunjuk bahwa hadits yang dicari memiliki sumber-sumber, diantaranya:
a.       Bukhari, Kitab Adab, nomor hadits. 6077 juz 4/ hal 119/ hadits 57
b.      Muslim, Kitab Barra, nomor hadits. 2560 juz 8/ hal 100/ hadits 25
c.       Dawud, Kitab Adab, nomor hadits. 4911 juz 2/ hal 464/ hadits 47
2.        Hadits-Hadits Shahih Muslim
a.       Kitab Shahih Bukhari
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللهِ بْنُ يُوسُفَ ، أَخْبَرَنَا مَالِكٌ ، عَنِ ابْنِ شِهَابٍ ، عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَزِيدَ اللَّيْثِيِّ ، عَنْ أَبِي أَيُّوبَ الأَنْصَارِيِّ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ : لاَ يَحِلُّ لِرَجُلٍ أَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلاَثِ لَيَالٍ يَلْتَقِيَانِ فَيُعْرِضُ هَذَا وَيُعْرِضُ هَذَا وَخَيْرُهُمَا الَّذِي يَبْدَأُ بِالسَّلاَمِ.[3]
b.      Kitab Shahih Muslim
حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى قَالَ قَرَأْتُ عَلَى مَالِكٍ عَنِ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَزِيدَ اللَّيْثِىِّ عَنْ أَبِى أَيُّوبَ الأَنْصَارِىِّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « لاَ يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلاَثِ لَيَالٍ يَلْتَقِيَانِ فَيُعْرِضُ هَذَا وَيُعْرِضُ هَذَا وَخَيْرُهُمَا الَّذِى يَبْدَأُ بِالسَّلاَمِ ».[4]
c.       Kitab Sunan Abu Dawud
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْلَمَةَ عَنْ مَالِكٍ عَنِ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَزِيدَ اللَّيْثِىِّ عَنْ أَبِى أَيُّوبَ الأَنْصَارِىِّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « لاَ يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ يَلْتَقِيَانِ فَيُعْرِضُ هَذَا وَيُعْرِضُ هَذَا وَخَيْرُهُمَا الَّذِى يَبْدَأُ بِالسَّلاَمِ »[5]

B.       Melakukan Kegatan I’tibar Sanad Hadits
1.        Art i I’tibar
I’tibar adalah melakukan peninjauan terhadap sanad-sanad hadits untuk mengetahui pertemuan antara periwayat satu dengan periwayat lainnya.
2.        Kegunaan I’tibar
Kegunaan i’tibar yaitu untuk melihat secara jelas seluruh jalur sanad hadits yang diteliti demikian juga nama-nama periwayatnya dan metode periwayatan yang digunakan oleh masing-masing periwayat dan untuk mengetahui sanad hadits seluruhnya dilihat dari ada atau tidaknya pendukung berupa periwayat yang berstatus mu’tabar atau syahid.
3.        Skema i’tibar sanad-sanad
Berikut skema sanad-sanad Hadits yang dirujuk dari kamus mu’jam mufakhrash yang mana terdapat (3) periwayat Hadits tentang dilarangnya mendiamkan saudaranya lebih dari tiga hari lamanya.
 
































C.      Melalakukan Penelitian Sanad Hadits
Langkah-langkah penelitan Hadits ada dua cara:
1.      Menentukan nama lengkap rawi beserta guru dan muridnya dan mencocokan
2.      Penelitian kritikus Hadits
Penelitian kritikus sanad hadits, berdasarkan pada hadits yang diriwayatkan oleh Muslim adalah sebagai berikut:
Rawi 1 : ‘Athoi bin yazid allaitsi
Rawi 2 : Ibnu syihab
Rawi 3 : Abdullah bin yusuf
Rawi 4 : Al-bukhari

a.       Al-Bukhari [6]
1)      Nama lengkapnya       : Muhammad Ibnu Isma’il Ibnu
Ibrahim Ibnu Mughirah Ibnu Bardarubah Al-Ja’fi Abu Abdullah Ibnu Abil Hasan Al-Bukhari
2)      Nama gurunya             : Ibrahim Ibnu Mundzir Al-Khuzami,
Ahmad Ibnu Hambal, Ishaq Ibnu   Rahawaih, Ali Ibnu Al-Madini, Abdullah bin Yusuf.
3)      Pernyataan kritik         : Al-Jassas mengatakan bahwa sanad
Al-Bukhari tsiqah (terpercaya)
b.      Abdullah bin Yusuf [7]
1)      Nama lengkapnya         : Abdullah bin Yusuf At-Tinnisi Abu
Muhammad Al-kala ‘Iyyulmisri.
2)      Nama gurunya              : Isma’il bin ‘Ulayyah, Sa’id bin Abdul Aziz,
sa’id bin basyir, Ibnu Syihab , Malik bin Annas.
3)      Nama muridnya            : Al-Bukhari, Ibrahim Hanri Anaisaburi,
Ibrahim Bin Ya’qub Al Jaujani, Ahmad Bin Abdul Ahad Bin ‘Abad, Muhammad Bin Abdullah bin Abdul Rahim Bin Baqi.
4)      Pernyataan kritikus       : Ahmad bin Abdullah ‘Ijli mengatakan
  bahwa Abdullah bin Yusuf tsiqah  
  (terpercaya)
c.       Ibnu Syihab [8]
1)      Nama lengkapnya         : Muhammad bin Muslim bin Ubaidillah
bin ‘Abdillah bin Syihab bin ‘Abdillah bin Haris bin Zuhrah Bin Kilab bin Murrati bin Ka’ab bin Luayyib bin Gholid Al-Quraisy Az-Zuhry.
2)      Nama gurunya              : Ibrahim bin Abdurrahman bin ‘Auf Anas
bin Malik, ‘Athoi bin Yazid Allaitsi, Athoi bin Abi Rabah, Ibrahim bin Abdullah bin Hunain.
3)      Nama muridnya            : Malik bin Anas, Ibrahim bin Ismail bin
Mujammi, , Abdullah bin Yusuf,
 Ibnu Abi Farawah, Ja’far Ibnu Rabiah
4)      Pernyataan kritikus       : Abu ‘Ubaid Al-Ajri dari Abi Dawud
mengatakan bawh sanad Ibnu Syihab lebih banyak dari 1000 Hadits-Hadits yang tsiqah (terpercaya)
d.      Athoi Bin Yazid Allaitasi [9]
1)      Nama lengkapnya       : ‘Athoi bin Yazid Allaitsi Junda’i Abu
Muhammad Waqil Abu Zaid.
2)      Nama gurunya             : ‘Ubaidillah bin ‘Ali bin Khiyar, Abi
Hurairah, Abi Sa’id Khudri, Abi Ayub Anshori, Abi Tsa’labah Khusyanni
3)      Nama muridnya          : Isma’il bin Ubaidillah bin Abi Mahajar
Ibnu Sulaiman bin ‘Athoi bin Yazid, Ibnu Syihab,Hamil bin Abi Maimunah.
4)      Pernyataan kritikus     : Ali bin Al-Madini mengatakan bahwa
‘Athai bin Yazid Allaitsi tsiqah (terpercaya)
D.      Hukum Hadits
Berdasarkan pendapat para ulama, hukum Hadits ini diklasifikasikan sebagai berikut:
v  Menurut kualitasnya tergolong kedalam Hadits shahih, karena sanadnya bersambung dengan rawi yang lainnya, para rawinya juga banyak yang tsiqah.
Berdasarkan pada pendirian ulama, sebuah Hadits dianggap  shahih apabila dalam persambungan sandanya benar-benar ditandai
 dengan pertemuan langsung antara guru dan muridnya.
v  Menurut kuantitas tegolong kedalam Hadits ahad yang masyhur karena diriwayatkan oleh lebih dari dua orang rawi, akan tetapi belum mencapai derajat mutawatir.

E.       Natijah (Kandungan Hadits )
Isi kandungan hadits dari hadits yang diriwayatkan oleh Abi Ayub Anshori adalah termasuk kedalam Bab Adab Tentang Larangan Mendiamkan Saudara Lebih Dari Tiga Hari Lamanya. Rasulullah SAW bersabda bahwasannya “Tidak halal bagi seorang mukmin mendiamkan saudaranya lebih dari tiga hari lamanya.
         Sesama Muslim adalah sesuatu yang cinta mencintai dengan ruh
Allah.Tanpa dengan hubungan sanak kerabat dan tak ada hubungan harta
benda.Tidak beriman seseorang sehingga dia mencintai saudaranya
sebagaimana diri sendiri.Tiap muslim adalah saudara.Jika muslim maka tetap
akan mengutamakan apa yang telah di contohkan Nabi.Menyayangi musuh-
musuhnya dan mencintai saudara-saudaranya.Hingga apabila kemarahan
kepada saudara hanya karena dunia,lebih dari tiga hari dia keluar dari contoh-
contoh atau anjuran Nabi.[10]

DAFTAR PUSATAKA

A.J. Wensick. Mu’jam Mufakhrash Fi Al Fadz Al-Hadits An-Nabawy. Laden B.J. Brill,1969.
Abdul Aziz Bin Abdillah. Shahih Bukhari.Bairut: Darul Fikri,1994.
As-Suyuti,Jalaludin.Shahih Muslim.Bairut: Darul Fikri, 2000.
Ibnu Hajar Al Asqalani.Fathul Baari 29.Jakarta Selatan:Pustaka Azzam,2008.
Jamil, Sidiqi Muhammad.Sunan Abu Dawud.Bairut: Darul Fikri,1994.
Musthofa,Bisri Adib.Tarjamah Shahih Muslim JilidIV.
Semarang: As-Syifa’Semarang,1993.
Suri Sudhari, Muhammad.Adabul Mufrad.Jakarta:Pustaka Al-Kautsar,2005.
Syamsudin,Abdullah Muhasin.Tahdzibul Kamal Fi Asmai Rijal.Bairut: Darul Fikri,1994.
Syamsudin, Abdullah Muhasin.Faharis Tahdzibul Kamal Fi Asmai Rijal.Bairut: Darul Fikri,1994.









[1] Bisri Adib Musthofa, Tarjamah Shahih Muslim Jilid IV (Semarang: As-Syifa’ Semarang 1993), hlm. 488.
[2] A.J. Wensick, Mu’jam Mufakhrash Fi Al Fadz Al-Hadits An-Nabawy, (Laden, B.J. Brill, 1969), hlm. 62.
[3] Abdul Aziz Bin Abdillah, Shahih Bukhari (Bairut: Darul Fikri, 1994),hlm.119.
[4] Jalaludin As-Suyuti, Shahih Muslim (Bairut: Darul Fikri, 2000),hlm.100.
[5] Sidqi Muhammad Jamil, Sunan Abu Dawud (Bairut: Darul Fikri, 1994), Juz 2,hlm.464.
[6] Moh.Suri Sudhari,Adabul Mufrad (Jakarta:Pustaka Al-Kautsar,2005),hlm.15.
[7] Abdul Muhasin Syamsudin,Tahdzibul Kamal Fi Asmai Rijal (Bairut:Darul Fikri,1994)Juz 10,hlm.652
[8] Ibid.,Juz 17,hlm.220.
[9] Ibid.,Juz 13,hlm.77.
[10] Ibnu Hajar Al Asqalani , Fathul Baari 29 (Jakarta Selatan:Pustaka Azzam,2008), hlm.396.



No comments:

Post a Comment