Monday, October 10, 2016

PERKEMBANGAN ISLAM MASA USMAN DAN ALI


Disusun Oleh:

Etri Yuniatun                        (1223101004)
Imam Agus Faisal                 (1223101005)
Imam Imanudin                    (1223101006)


I.PENDAHULUAN

Setelah Rasulullah SAW wafat, kaum muslimin mengadakan pertemuan di Saqifah bani Sa’idah. Mereka membicarakan siapakah sepatutnya yang menggantikan Rasululah SAW dalam memimpin kaum muslimin dan mengurusi persoalan umat. Setelah diskusi, pembahasan, dan pengajuan sejumlah usulan, tercapailahkesepakatan bulat khalifah Rasullulah pertama setelah kematian beliau adalah orang yang pernah menjadi khalifah (pengganti) Nabi SAW dalam mengimami kaum muslimin pada saat beliau sakit. Itulah ash-siddiq sahabat beliau yang terbesar dan pendamping beliau didalam gua, abu bakar r.a.
Ali r.a tidak pernah menentang kesepakatan tersebut keterlambatan baiat Ali kepada Abu Bakar karena urusan yang berkaitan dengan perbedaan pendapat yang terjadi antara Abu Bakar r.a dan Fatimah r.a mengenai masalah warisan Fatimah dari rasullulah SAW.
Dalam makalah ini, akan dibahas mengenai Perkembangan Islam masa Usman dan Ali .

II.ISI
1.      SISTEM POLITIK DAN PEMERINTAHAN.
Pada pertengahan pertama dari khalifah Utsman, yaitu tahun 24 Hijriah, negri rayyi berhasil ditaklukan. Di tahun 25 hijriah Utsman mengutus Uqbah bin Mu’ith “seorang sahabi dan saudara seibu dengan Utsman” untuk menggantikan kedudukan gubernur Sa’ad bin Abi Waqqash . Inilah sebab utama dituduhnya  Utsman melakukan nepotisme.[1]
Pada tahun 26 Hijriah, Utsman melakukan perluasan Masjidil Haram dengan membeli sejumlah tempat dari para pemiliknya lalu disatukan dengan Masjid. Pada tahun 17 Hijriah ini, Utsman menurunkan Amru ibnu Ash dari jabatan gubernur Mesir dan sebagai gantinya diangkatlah Abdullah bin Sa’ad bin Abi Sarh. Dia kemudian menyerbu afrika dan berhasil menaklukannya dengan mudah. Di tahun ini pula, Andalusia berhasil  ditaklukkan .
Tahun 29 Hijriah, negri-negri lain berhasil ditaklukan. Pada tahun ini, Utsman radhiyallahu ‘anhu  memperluas mesjid Madinah al-Munawarah dan membangunnya dengan batu-batu berukir .
Negri-negri Khurasan ditaklukkan pada tahun ke-30 Hijriah sehingga banyak terkumpul kharaj (infaq penghasilan) dan harta dari berbagai penjuru. Allah memberikan karunia yang melimpah dari semua semua negri dari kaum muslimin .
Pada tahun 32 Hijriah, Abbas bin Abdulmuthalib, Abdurrahman bin Auf, Abdullah bin Mas’ud, dan Abu Darda wafat. Orang-orang yang pernah menjabat sebagai hakim negri Syam sampai saat itu ialah Mu’awiyah, Abu Dzarr bin Jundab bin Junadha al-Giffari, dan Zaid bin Abdullah radiyallahu ‘anhum. Pada tahun ke-33 Hijriah, Abdullah bin Mas’ud bin Abi Sarh menyerbu Habasyah.
Seperti diketahui, Utsaman r.a mengangkat para kerabatnya dari bani umaiyyah menduduki berbagai jabatan. Kebijakan ini mengkibatkan dipecatnya sejumlah sahabat dari berbagai jabatan mereka dan digantika oleh orang yang diutamakannya dari kerabatnya. Kebijakan ini mengkibatkan rasa tidak senang orang banyak terhadap Utsman. Hal inilah yang dijadikan pemicu dan sandaran oleh orang Yahudi Abdullah bin Saba’ dan teman-temannya untuk membangkitkan fitnah.[2]
Setelah peristiwa ini, di Mesir muncul satu kelompok anak anak para sahabat. Mereka menggerakan massa untuk menentang  Usman dan menggugat sebagai besar tidakannya. Kelompok ini melakukan tindakan tersebut tentu setelah Abdullah bin Saba’ berhasil merusak dan menyebarkan itnah di Mesi. Ia berhasil menghasut sekitar enam ratus orang untuk berangkat ke Madinah dengan berkedok melakukan ibadah umrah. Namun sebenarnya mereka bertujuan menyabarkan fitnah dalam masyarakat Madinah. Utsman mengutus Ali untuk menemui mereka dan bicara kepada mereka. Ali kemudian berangkat menemui mereka di Juhfa.

Ketika menghadap Utsman, Ali melaporkan kepulangan dan mengusulkan agar utsman menyampaikan pidato guna untuk meminta maaf atas tindakannya mengutamakan sebagaian kerabatnya dan bahwa ia telah bertobat dari tindakan tersebut.
Usulan ini diterima oleh Utsman. Utsman kemudian berpidato dihadapan orang banyak pada hari Jum’at.
Keadaan politik umat islam secara keseluruhan baru mengalami kemajuan kembali setelah muncul dan berkembangnya tiga kerajaan besar:Usmani,Mughal,dan Safawi.Kerajaan Usmani,disamping yang pertama berdiri,juga yang terbesar dan paling lama bertahan dibanding dua kerajaan lainnya.[3]

2.      MASA USMAN DAN ALI
Usman menjabat sebagai khalifah selama 12 tahun beliau lebih dicintai orang Quraisy ketimbang Umar karna Umar bersiaf keras terhadap mereka. Akan tetapi masyarakat mulai berubah sikap terhadapnya tatkala ia mengutamakan kerabatnya dalam pemerintahan akhirnya, hal ini menjadi sebab pembunuhannya.
Usman dibunuh secara aniaya, pembunuhnya adalah zalim dan penghianatnya adalah orang yang memerlukan ampunan.kami sebutkan disinih secara singkat cerita pembunuhannya
Para penduduk Mesir datang mengadukan Ibnu Abi Sarh setelah pengaduan Usman menulis surat kepadanya yang berisi nasihat dan peringatan terhadapnya. Tapi Abu Sarh tidak mau menerima peringatan bahkan mengambil tindakan keras terhadap orang yang mengadukannya.
Selanjutnya para tokoh sahabat seperti Ali, Thalhah, dan Aisah mengusulkan agar Ibnu Sarh di ganti dengan orang lain. Setelah mendapat usulan penggantinya adalah Muhammad bin Abu Bakar, maka Usman mengangkatnya secara resmi.
Surat keputusan ini kemudian dibawa oleh sejumlah sahabat ke Mesir. Baru tiga hari perjalanan dari Madinah, mereka bertemu dengan seorang pemuda hitam berkendaraan unta yang berjalan mundur maju. Para sahabat menghentikannya dan bertanya kepadanya, siapa dia dan apa keperluannya pemuda hitam itu menjawab dengan gagap dan ragu-ragu. Lalu dia menyerahkan surat, surat itu dibuka dan berisi “ jika Muhammad beserta si fulan dan sifulan datang kepadaku bunuhlah mereka dan batalkanlah suratnya.
Dan tetaplah engkau melakukan tugasmu sampai engkau menerima keputusanku. Aku menahan orang yang akan datang kepadaku mengadukan dirimu”. Akhirnya para sahabat kembali ke Madinah perisatiwa ini membuat seluruh penduduk Madinah marah dan benci terhadap Usmanmelihat hal ini Ali segera memanggil beberapa tokoh sahabat dan meneliti kejadian tersebut.[i]
Usman bersumpah bahwa surat itu bukan berasal darinya kemudian diperiksa surat tersebut dan diketahui bahwa surat itu ditulis oleh Marwan namun Usman tidak bersedia menyerahkan Marwan kepada mereka. Setelah tersiarnya berita tersebut sebagian masyarakat Madinah mengepung rumah Usman dan tidak memberikan air kepadanya karna Usman merasa kepayahan Usman meminta agar Ali mengirimkan air kepadanya namun sangatlah sulit sampai kepada Usman.
Saat itu Ali mendengar usman akan dibunuh Ali menyuruh Hasan dan Husain untuk menjaga pintu rumah Usman sebab yang seharusnya dibunuh adalah Marwan ketika para pengacau Menyerbu pintu rumah Usman walaupun dihentikan oleh Hasan dan Husain mereka berhasil menebaskan pedang sehingga khalifah Usman terbunuh. Ketika mendengar berita ini Ali marah. Demikianlah pembunuhan Usman merupakan pintu dari mata rantai fitnah yang terus membentang tanpa akhir.
Setelah kejadian pembunuhan ali mencari pembunuhnya. Ibnu Asakir meriwayatkan dari kinanah, mantan budak Shafiah, dan lainnya. Mereka berkata, “Usman dibunuh oleh seorang lelaki dari Mesir berkulit biru kecoklatan.” Menurut riwayat yang sahih, khalifah Utsman dibunuh pada pertengahan hari tasyriq tahun ke-35 Hijriah.
Singkat peristiwa Thalhah dan Zubair bersama sejumlah sahabat masing-masing berpendapat agar Ali segera menangkap para pembunuh dan melaksanakan qishash terhadap mereka.Guna menjamin keselamatan pelaksanaannya dan menghindarkan fitnah,mereka menawarkan kepada Ali untuk melakukan tugas tersebut dan meminta agar Ali mendatangkan pasukan dari Bashrah dan Kufah untuk mendukungnya. Akan tetapi,Ali meminta agar mereka menunggu sampai ia menyusun program yang baik untuk melaksanakan hal tersebut.
Hal yang terjadi setelah itu ialah bahwa masing-masing dari kedua belah pihak melaksanakan ijtihadnya dalam menggunakan cara yang terbaik untuk menuntut darah Utsman.Akhirnya berkumpullah orang-orang yang berpendapat harus segera melaksanakan qishash,di Bashrah.Semua pihak berunding yang akhirnya sepakat untuk menyerahkan urusan ini kepada Ali.
Al Qa’qa kembali kepada Ali menyampaikan kesepakatan yang telah dicapai dan keinginan orang-orang untuk berdamai.Tdak lama setelah Ali mengumumkan terjadinya perdamaian,kesepakatan,dan rencana esok hari,malam itu pula para gembong fitnah pun mengadakan pertemuan.mereka membahas bahaya perdamaian.Salah satu dari mereka ada yang usul untuk membunuh Ali.Akan tetapi,Abdullah bin Saba’ mengecam dan menentangnya.
Pada masa masalah mu’awiyah dan perang Shiffin Ali kembali ke kufah yang telah dijadikan sebagai pusat khilafah.Sesampainya di Kufah,Ali segera mengutus Jurair bin Abdullah Al Bajli kepada mu’awiyah di Syam guna mengajak bergabung kedalam apa yang telah dilakukan orang-orang dan memberitahukan bahwa muhajirin dan anshar telah sepakat untuk membaiatnya.Akan tetapi Mu’awiyah berpendapat bahwa baiat itu tidak dinyatakan sah kecuali dengan kehadiran mereka semua.Karena itu , mu’awiyah tidak bersedia memenuhi ajakan Ali sampai para pembunuh utsman di Qishash kemudian kaum muslimin memilih sendiri imam mereka.
Setelah mendengar penolakan mu’awiyah,Ali langsung menanggapinya”pemberontak”.Setelah mengetahui hal tersebut mu’awiyahpun dengan serta merta mengerahkan pasukannya dari syam hingga kedua pasukan ini bertemu di daratan Shiffin di tepi sungai Eufrat.Ssementara itu,mu’awiyah menyerukan Ali agar sebelum melakukan sesuatu,hendaklah menangkap para pembunuh usman yang merupakan anak pamannya.
Saat itulah Mu’awiyah bin Amr ibnul ash memobilisasikan pasukannya dari segala arah.Kemudian Ali berwasiat kepada pasukannya agar tidak mendahului penyerbuan hingga penduduk syam memulainya,tidak menyerang orang yang luka,tidak mengejar orang yang mundur melarikan diri,tidak membuka aurat wanita,dan tidak menganiayanya.
Pada masa masalah Khawarij dan terbunuhnya Ali,ketika Ali mengutus Abu Musa Al asy’ari dan pasukan ke daumatul Jandal,masalah kaum Khawarij(pembelot)semakin bertambah memuncak.mereka sangat mengecam Ali,bahkan secara terus menerus mengkafirkannya karena tindakannya menerima tahkim,padahal kaum khawarij sebelumnya termasuk mereka yang paling antusias terhadap Ali.
Akan tetapi,mereka membalas Ali dengan menyatakan,”kami semua adalah para pembunuh saudara-saudara kalian!kami menghalalkan darah mereka dan darah kalian!”Setelah mengetahui bahwa yang melakukan tindak kriminal ini adalah Ibnu Muljim,Ali berkata kepada para sahabatnya”Jika aku mati bunuhlah ia,tetapi jika aku hidup,aku tahu bagaimana bertindak terhadapnya”
Ketika Sakaratul maut Ali tidak mengucapkan kalimat apapun selain la illahaillallah.Beliau wafat pada usia 60 tahun,khilafahnya berlangsung selama 5 tahun kurang 3 bulan.[4]
Syi’ah menjelaskan,dalil yang sangat jelas tentang kebenaran imamah Ali sesudah Nabi Muhammad SAW.[5]
Sejarah Singkat Mushaf Usmani.Setelah rasulullah saw wafat pada tahun 11 hijriah, perjuangan rasulullah dalam memperjuangkan agama Allah masih terus dilakukan oleh para sahabatnya. Perluasan wilayah yang merupakan salah satu agenda rasulullah merupakan agenda utama bagi setiap khalifah yang memegang kekhalifahan. Sehingga akibat dari kebijakan memprioritaskan perluasan wilayah ini secara tidak langsung menimbulkan dampak negative bagi pertumbuhan dan perkembangan budaya ilmiyah di dalam masyarakat muslim.
Perkembangan di bidang pendidikan mandeg, budaya dan tradis masyarakat muslim yang tidak terurus serta munculnya berbagai kemerosotan akhlaq merupakan efek negative dari kebijakan khalifah pada waktu itu.
Hal ini baru disadari setelah terjadinya peperangan Yamamah yang menewaskan sebagian besar huffadz yang merupakan pemegang dan pemelihara kalamullah pada waktu itu. Setelah melihat hal ini, Umar bin Khatab mengusulkan kepada khalifah Abu Bakar untuk segera mengumpulkan Alquran agar kalamullah ini tetap terjaga dari pihak-pihak yang ingin meruntuhkan Islam.
Setelah mempertimbangkan beberapa hal, msekipun agak berat, Abu Bakar akhirnya menyetujui usulan Umar dan beliau lengsung memerintahkan Zaid bin Tasbit seorang sekretaris rasulullah untuk segera menghimpun dan mengumpulkan Alquran dalam satu mushaf. Dalam masa yang relative singkat, akhirnya Zaid yang diperbantukan oleh beberapa orang sahabat berhasil menghimpun dan mengumpulkan Alquran kedalam satu mushaf yang biasa dikenal dengan sebutan mushaf Abu bakar. 
Mushaf ini, sepeninggal Abu Bakar diserahkan kepada Khalifah Umar bin Khattab yang seterusnya sebagai ahli waris dan istri rasulullah saw mushaf ini diserahkan kepada Hafsah binti Umar.
Di masa pemerintahan khalifah Usman bin ‘Affan, atas usulan Huzaifah bin Yaman yang melihat banyaknya terjadi perpecahan dikalangan masyarakat muslim yang diakibatkan oleh adanya perbedaan dalam pembacaan Alquran antara satu dengan yang lain, maka melihat hal ini khalifah Usman langsung memanggil Zaid bin Tsabit untuk segera membuat sebuah tim untuk mengumpulkan dan menghimpun semua ayat-ayat Alquran dalam satu mushaf. Akhirnya seiring dengan berjalannya waktu, Zaid sebgai ketua tim bersama para anggotanya berhasil mengumpulkan dan menghimpun semua Alquran kedalam sebuah mushaf yang dikenal dengan nama mushaf Usmani.

III. KESIMPULAN

Pertama,di antara keutamaan dan keistimewaan yang dapat dicatat pada periode pemerintahn Utsman ialah banyaknya penaklukan dan perluasan.Pada periode ini,seluruh Khurasan berhasil ditaklukan.Demikian pula Afrika sampai Andalusia.Di samping itu,tercatat pula sejumlah prestasi mulia dan agung yang pernah dilakukan Utsman,seperti menyatukan orang dalam bacaan dan tulisan al-Qur’an yang terpercaya setelah berkembangnya berbagai bacaan yang dikhawatirkan dapat membingungkan orang.Juga seperti prestasinya memperluas Masjid Nabawi di Madinah al-Munawwarah.
Tuntutan qishash terhadap para pembunuh Utsman bukan merupakan sebab terjadinya perselisihan.Apa yang diinginkan oleh Aisyah,Thalhah,Zubair dan orang-orang yang bersama mereka ialah dijadikannya pelaksanaan qishash terhadap para pembunuh Utsman tersebut sebagai amalan yang pertama dilakukan oleh Ali dalam khilafahnya.Sementara itu,Ali memandang perlu diadakannya penerbitan dan penataan ulang terlebih dahulu,baru kemudian berusaha membekuk para pembunuh Utsman dengan cara yang lebih tenang dan cermat.

Daftar Pustaka

Yatim,Badri.2011.Sejarah Peradaban Islam.Jakarta:RajaGrafindo Persada.
Sa’id Ramadhan Al-Buthy,Muhammad.1999.Sirah Nabawiyah.Jakarta:Robbani Press.

As-Salus,Ali.1997.Imamah&Khilafah.Jakarta:GEMA INSANI PRESS.











[1]Dr.Muhammad Sa’id Ramadhan Al-Buthy,Sirah Nabawiyah(Jakarta:1999),hlm. 548.
[2]Ibid, hlm. 549.
[3] Dr.Badri Yatim,Sejarah Peradaban Islam,(Jakarta:2011),hlm.129
[4] Ibid,hlm.569.
[5]Dr.Ali As-Salus,Imamah&Khilafah,(Jakarta:1997) hlm.47





No comments:

Post a Comment