PERKEMBANGAN ISLAM MASA USMAN DAN ALI
Disusun
Oleh:
Etri
Yuniatun (1223101004)
Imam
Agus Faisal (1223101005)
Imam
Imanudin (1223101006)
I.PENDAHULUAN
Setelah
Rasulullah SAW wafat, kaum muslimin mengadakan pertemuan di Saqifah bani
Sa’idah. Mereka membicarakan siapakah sepatutnya yang menggantikan Rasululah
SAW dalam memimpin kaum muslimin dan mengurusi persoalan umat. Setelah diskusi,
pembahasan, dan pengajuan sejumlah usulan, tercapailahkesepakatan bulat khalifah
Rasullulah pertama setelah kematian beliau adalah orang yang pernah menjadi
khalifah (pengganti) Nabi SAW dalam mengimami kaum muslimin pada saat beliau
sakit. Itulah ash-siddiq sahabat beliau yang terbesar dan pendamping beliau
didalam gua, abu bakar r.a.
Ali
r.a tidak pernah menentang kesepakatan tersebut keterlambatan baiat Ali kepada
Abu Bakar karena urusan yang berkaitan dengan perbedaan pendapat yang terjadi
antara Abu Bakar r.a dan Fatimah r.a mengenai masalah warisan Fatimah dari
rasullulah SAW.
Dalam makalah ini, akan
dibahas mengenai Perkembangan Islam masa Usman dan Ali .
II.ISI
1. SISTEM
POLITIK DAN PEMERINTAHAN.
Pada pertengahan
pertama dari khalifah Utsman, yaitu tahun 24 Hijriah, negri rayyi berhasil
ditaklukan. Di tahun 25 hijriah Utsman mengutus Uqbah bin Mu’ith “seorang
sahabi dan saudara seibu dengan Utsman” untuk menggantikan kedudukan gubernur
Sa’ad bin Abi Waqqash . Inilah sebab utama dituduhnya Utsman melakukan nepotisme.[1]
Pada tahun 26 Hijriah,
Utsman melakukan perluasan Masjidil Haram dengan membeli sejumlah tempat dari
para pemiliknya lalu disatukan dengan Masjid. Pada tahun 17 Hijriah ini, Utsman
menurunkan Amru ibnu Ash dari jabatan gubernur Mesir dan sebagai gantinya
diangkatlah Abdullah bin Sa’ad bin Abi Sarh. Dia kemudian menyerbu afrika dan
berhasil menaklukannya dengan mudah. Di tahun ini pula, Andalusia berhasil ditaklukkan .
Tahun 29 Hijriah,
negri-negri lain berhasil ditaklukan. Pada tahun ini, Utsman radhiyallahu ‘anhu memperluas mesjid Madinah al-Munawarah dan
membangunnya dengan batu-batu berukir .
Negri-negri Khurasan
ditaklukkan pada tahun ke-30 Hijriah sehingga banyak terkumpul kharaj (infaq penghasilan) dan harta
dari berbagai penjuru. Allah memberikan karunia yang melimpah dari semua semua
negri dari kaum muslimin .
Pada tahun 32 Hijriah,
Abbas bin Abdulmuthalib, Abdurrahman bin Auf, Abdullah bin Mas’ud, dan Abu
Darda wafat. Orang-orang yang pernah menjabat sebagai hakim negri Syam sampai
saat itu ialah Mu’awiyah, Abu Dzarr bin Jundab bin Junadha al-Giffari, dan Zaid
bin Abdullah radiyallahu ‘anhum. Pada
tahun ke-33 Hijriah, Abdullah bin Mas’ud bin Abi Sarh menyerbu Habasyah.
Seperti diketahui,
Utsaman r.a mengangkat para kerabatnya dari bani umaiyyah menduduki berbagai
jabatan. Kebijakan ini mengkibatkan dipecatnya sejumlah sahabat dari berbagai
jabatan mereka dan digantika oleh orang yang diutamakannya dari kerabatnya.
Kebijakan ini mengkibatkan rasa tidak senang orang banyak terhadap Utsman. Hal
inilah yang dijadikan pemicu dan sandaran oleh orang Yahudi Abdullah bin Saba’
dan teman-temannya untuk membangkitkan fitnah.[2]
Setelah peristiwa ini,
di Mesir muncul satu kelompok anak anak para sahabat. Mereka menggerakan massa
untuk menentang Usman dan menggugat sebagai
besar tidakannya. Kelompok ini melakukan tindakan tersebut tentu setelah
Abdullah bin Saba’ berhasil merusak dan menyebarkan itnah di Mesi. Ia berhasil
menghasut sekitar enam ratus orang untuk berangkat ke Madinah dengan berkedok
melakukan ibadah umrah. Namun sebenarnya mereka bertujuan menyabarkan fitnah
dalam masyarakat Madinah. Utsman mengutus Ali untuk menemui mereka dan bicara
kepada mereka. Ali kemudian berangkat menemui mereka di Juhfa.
Ketika menghadap
Utsman, Ali melaporkan kepulangan dan mengusulkan agar utsman menyampaikan
pidato guna untuk meminta maaf atas tindakannya mengutamakan sebagaian
kerabatnya dan bahwa ia telah bertobat dari tindakan tersebut.
Usulan ini
diterima oleh Utsman. Utsman kemudian berpidato dihadapan orang banyak pada
hari Jum’at.
Keadaan politik
umat islam secara keseluruhan baru mengalami kemajuan kembali setelah muncul
dan berkembangnya tiga kerajaan besar:Usmani,Mughal,dan Safawi.Kerajaan
Usmani,disamping yang pertama berdiri,juga yang terbesar dan paling lama bertahan
dibanding dua kerajaan lainnya.[3]
2. MASA
USMAN DAN ALI
Usman menjabat sebagai
khalifah selama 12 tahun beliau lebih dicintai orang Quraisy ketimbang Umar
karna Umar bersiaf keras terhadap mereka. Akan tetapi masyarakat mulai berubah
sikap terhadapnya tatkala ia mengutamakan kerabatnya dalam pemerintahan
akhirnya, hal ini menjadi sebab pembunuhannya.
Usman dibunuh secara
aniaya, pembunuhnya adalah zalim dan penghianatnya adalah orang yang memerlukan
ampunan.kami sebutkan disinih secara singkat cerita pembunuhannya
Para penduduk Mesir
datang mengadukan Ibnu Abi Sarh setelah pengaduan Usman menulis surat kepadanya
yang berisi nasihat dan peringatan terhadapnya. Tapi Abu Sarh tidak mau
menerima peringatan bahkan mengambil tindakan keras terhadap orang yang mengadukannya.
Selanjutnya para tokoh
sahabat seperti Ali, Thalhah, dan Aisah mengusulkan agar Ibnu Sarh di ganti
dengan orang lain. Setelah mendapat usulan penggantinya adalah Muhammad bin Abu
Bakar, maka Usman mengangkatnya secara resmi.
Surat keputusan ini
kemudian dibawa oleh sejumlah sahabat ke Mesir. Baru tiga hari perjalanan dari
Madinah, mereka bertemu dengan seorang pemuda hitam berkendaraan unta yang
berjalan mundur maju. Para sahabat menghentikannya dan bertanya kepadanya,
siapa dia dan apa keperluannya pemuda hitam itu menjawab dengan gagap dan
ragu-ragu. Lalu dia menyerahkan surat, surat itu dibuka dan berisi “ jika
Muhammad beserta si fulan dan sifulan datang kepadaku bunuhlah mereka dan
batalkanlah suratnya.
Dan tetaplah engkau
melakukan tugasmu sampai engkau menerima keputusanku. Aku menahan orang yang
akan datang kepadaku mengadukan dirimu”. Akhirnya para sahabat kembali ke
Madinah perisatiwa ini membuat seluruh penduduk Madinah marah dan benci
terhadap Usmanmelihat hal ini Ali segera memanggil beberapa tokoh sahabat dan
meneliti kejadian tersebut.[i]
Usman bersumpah bahwa
surat itu bukan berasal darinya kemudian diperiksa surat tersebut dan diketahui
bahwa surat itu ditulis oleh Marwan namun Usman tidak bersedia menyerahkan Marwan
kepada mereka. Setelah tersiarnya berita tersebut sebagian masyarakat Madinah
mengepung rumah Usman dan tidak memberikan air kepadanya karna Usman merasa
kepayahan Usman meminta agar Ali mengirimkan air kepadanya namun sangatlah
sulit sampai kepada Usman.
Saat itu Ali mendengar
usman akan dibunuh Ali menyuruh Hasan dan Husain untuk menjaga pintu rumah
Usman sebab yang seharusnya dibunuh adalah Marwan ketika para pengacau Menyerbu
pintu rumah Usman walaupun dihentikan oleh Hasan dan Husain mereka berhasil
menebaskan pedang sehingga khalifah Usman terbunuh. Ketika mendengar berita ini
Ali marah. Demikianlah pembunuhan Usman merupakan pintu dari mata rantai fitnah
yang terus membentang tanpa akhir.
Setelah kejadian
pembunuhan ali mencari pembunuhnya. Ibnu Asakir meriwayatkan dari kinanah,
mantan budak Shafiah, dan lainnya. Mereka berkata, “Usman dibunuh oleh seorang
lelaki dari Mesir berkulit biru kecoklatan.” Menurut riwayat yang sahih,
khalifah Utsman dibunuh pada pertengahan hari tasyriq tahun ke-35 Hijriah.
Singkat peristiwa Thalhah
dan Zubair bersama sejumlah sahabat masing-masing berpendapat agar Ali segera
menangkap para pembunuh dan melaksanakan qishash terhadap mereka.Guna menjamin
keselamatan pelaksanaannya dan menghindarkan fitnah,mereka menawarkan kepada
Ali untuk melakukan tugas tersebut dan meminta agar Ali mendatangkan pasukan
dari Bashrah dan Kufah untuk mendukungnya. Akan tetapi,Ali meminta agar mereka
menunggu sampai ia menyusun program yang baik untuk melaksanakan hal tersebut.
Hal yang terjadi
setelah itu ialah bahwa masing-masing dari kedua belah pihak melaksanakan
ijtihadnya dalam menggunakan cara yang terbaik untuk menuntut darah
Utsman.Akhirnya berkumpullah orang-orang yang berpendapat harus segera
melaksanakan qishash,di Bashrah.Semua pihak berunding yang akhirnya sepakat
untuk menyerahkan urusan ini kepada Ali.
Al Qa’qa kembali kepada
Ali menyampaikan kesepakatan yang telah dicapai dan keinginan orang-orang untuk
berdamai.Tdak lama setelah Ali mengumumkan terjadinya perdamaian,kesepakatan,dan
rencana esok hari,malam itu pula para gembong fitnah pun mengadakan pertemuan.mereka
membahas bahaya perdamaian.Salah satu dari mereka ada yang usul untuk membunuh
Ali.Akan tetapi,Abdullah bin Saba’ mengecam dan menentangnya.
Pada masa masalah mu’awiyah
dan perang Shiffin Ali kembali ke kufah yang telah dijadikan sebagai pusat
khilafah.Sesampainya di Kufah,Ali segera mengutus Jurair bin Abdullah Al Bajli
kepada mu’awiyah di Syam guna mengajak bergabung kedalam apa yang telah
dilakukan orang-orang dan memberitahukan bahwa muhajirin dan anshar telah
sepakat untuk membaiatnya.Akan tetapi Mu’awiyah berpendapat bahwa baiat itu
tidak dinyatakan sah kecuali dengan kehadiran mereka semua.Karena itu ,
mu’awiyah tidak bersedia memenuhi ajakan Ali sampai para pembunuh utsman di
Qishash kemudian kaum muslimin memilih sendiri imam mereka.
Setelah mendengar
penolakan mu’awiyah,Ali langsung menanggapinya”pemberontak”.Setelah mengetahui
hal tersebut mu’awiyahpun dengan serta merta mengerahkan pasukannya dari syam hingga
kedua pasukan ini bertemu di daratan Shiffin di tepi sungai Eufrat.Ssementara
itu,mu’awiyah menyerukan Ali agar sebelum melakukan sesuatu,hendaklah menangkap
para pembunuh usman yang merupakan anak pamannya.
Saat itulah Mu’awiyah
bin Amr ibnul ash memobilisasikan pasukannya dari segala arah.Kemudian Ali
berwasiat kepada pasukannya agar tidak mendahului penyerbuan hingga penduduk
syam memulainya,tidak menyerang orang yang luka,tidak mengejar orang yang
mundur melarikan diri,tidak membuka aurat wanita,dan tidak menganiayanya.
Pada masa masalah
Khawarij dan terbunuhnya Ali,ketika Ali mengutus Abu Musa Al asy’ari dan
pasukan ke daumatul Jandal,masalah kaum Khawarij(pembelot)semakin bertambah
memuncak.mereka sangat mengecam Ali,bahkan secara terus menerus mengkafirkannya
karena tindakannya menerima tahkim,padahal kaum khawarij sebelumnya termasuk
mereka yang paling antusias terhadap Ali.
Akan tetapi,mereka
membalas Ali dengan menyatakan,”kami semua adalah para pembunuh saudara-saudara
kalian!kami menghalalkan darah mereka dan darah kalian!”Setelah mengetahui
bahwa yang melakukan tindak kriminal ini adalah Ibnu Muljim,Ali berkata kepada
para sahabatnya”Jika aku mati bunuhlah ia,tetapi jika aku hidup,aku tahu
bagaimana bertindak terhadapnya”
Ketika Sakaratul maut
Ali tidak mengucapkan kalimat apapun selain la illahaillallah.Beliau wafat pada
usia 60 tahun,khilafahnya berlangsung selama 5 tahun kurang 3 bulan.[4]
Syi’ah menjelaskan,dalil
yang sangat jelas tentang kebenaran imamah Ali sesudah Nabi Muhammad SAW.[5]
Sejarah Singkat Mushaf Usmani.Setelah rasulullah saw
wafat pada tahun 11 hijriah, perjuangan rasulullah dalam memperjuangkan agama
Allah masih terus dilakukan oleh para sahabatnya. Perluasan wilayah yang
merupakan salah satu agenda rasulullah merupakan agenda utama bagi setiap
khalifah yang memegang kekhalifahan. Sehingga akibat dari kebijakan
memprioritaskan perluasan wilayah ini secara tidak langsung menimbulkan dampak
negative bagi pertumbuhan dan perkembangan budaya ilmiyah di dalam masyarakat
muslim.
Perkembangan di bidang pendidikan mandeg, budaya dan
tradis masyarakat muslim yang tidak terurus serta munculnya berbagai
kemerosotan akhlaq merupakan efek negative dari kebijakan khalifah pada waktu
itu.
Hal ini baru disadari setelah terjadinya peperangan Yamamah yang menewaskan sebagian besar huffadz yang merupakan pemegang dan pemelihara kalamullah pada waktu itu. Setelah melihat hal ini, Umar bin Khatab mengusulkan kepada khalifah Abu Bakar untuk segera mengumpulkan Alquran agar kalamullah ini tetap terjaga dari pihak-pihak yang ingin meruntuhkan Islam.
Hal ini baru disadari setelah terjadinya peperangan Yamamah yang menewaskan sebagian besar huffadz yang merupakan pemegang dan pemelihara kalamullah pada waktu itu. Setelah melihat hal ini, Umar bin Khatab mengusulkan kepada khalifah Abu Bakar untuk segera mengumpulkan Alquran agar kalamullah ini tetap terjaga dari pihak-pihak yang ingin meruntuhkan Islam.
Setelah mempertimbangkan beberapa hal, msekipun agak
berat, Abu Bakar akhirnya menyetujui usulan Umar dan beliau lengsung
memerintahkan Zaid bin Tasbit seorang sekretaris rasulullah untuk segera
menghimpun dan mengumpulkan Alquran dalam satu mushaf. Dalam masa yang relative
singkat, akhirnya Zaid yang diperbantukan oleh beberapa orang sahabat berhasil
menghimpun dan mengumpulkan Alquran kedalam satu mushaf yang biasa dikenal
dengan sebutan mushaf Abu bakar.
Mushaf ini, sepeninggal Abu Bakar diserahkan kepada Khalifah Umar bin Khattab yang seterusnya sebagai ahli waris dan istri rasulullah saw mushaf ini diserahkan kepada Hafsah binti Umar.
Di masa pemerintahan khalifah Usman bin ‘Affan, atas usulan Huzaifah bin Yaman yang melihat banyaknya terjadi perpecahan dikalangan masyarakat muslim yang diakibatkan oleh adanya perbedaan dalam pembacaan Alquran antara satu dengan yang lain, maka melihat hal ini khalifah Usman langsung memanggil Zaid bin Tsabit untuk segera membuat sebuah tim untuk mengumpulkan dan menghimpun semua ayat-ayat Alquran dalam satu mushaf. Akhirnya seiring dengan berjalannya waktu, Zaid sebgai ketua tim bersama para anggotanya berhasil mengumpulkan dan menghimpun semua Alquran kedalam sebuah mushaf yang dikenal dengan nama mushaf Usmani.
Mushaf ini, sepeninggal Abu Bakar diserahkan kepada Khalifah Umar bin Khattab yang seterusnya sebagai ahli waris dan istri rasulullah saw mushaf ini diserahkan kepada Hafsah binti Umar.
Di masa pemerintahan khalifah Usman bin ‘Affan, atas usulan Huzaifah bin Yaman yang melihat banyaknya terjadi perpecahan dikalangan masyarakat muslim yang diakibatkan oleh adanya perbedaan dalam pembacaan Alquran antara satu dengan yang lain, maka melihat hal ini khalifah Usman langsung memanggil Zaid bin Tsabit untuk segera membuat sebuah tim untuk mengumpulkan dan menghimpun semua ayat-ayat Alquran dalam satu mushaf. Akhirnya seiring dengan berjalannya waktu, Zaid sebgai ketua tim bersama para anggotanya berhasil mengumpulkan dan menghimpun semua Alquran kedalam sebuah mushaf yang dikenal dengan nama mushaf Usmani.
III.
KESIMPULAN
Pertama,di antara
keutamaan dan keistimewaan yang dapat dicatat pada periode pemerintahn Utsman
ialah banyaknya penaklukan dan perluasan.Pada periode ini,seluruh Khurasan
berhasil ditaklukan.Demikian pula Afrika sampai Andalusia.Di samping
itu,tercatat pula sejumlah prestasi mulia dan agung yang pernah dilakukan
Utsman,seperti menyatukan orang dalam bacaan dan tulisan al-Qur’an yang
terpercaya setelah berkembangnya berbagai bacaan yang dikhawatirkan dapat
membingungkan orang.Juga seperti prestasinya memperluas Masjid Nabawi di
Madinah al-Munawwarah.
Tuntutan qishash
terhadap para pembunuh Utsman bukan merupakan sebab terjadinya perselisihan.Apa
yang diinginkan oleh Aisyah,Thalhah,Zubair dan orang-orang yang bersama mereka
ialah dijadikannya pelaksanaan qishash terhadap para pembunuh Utsman tersebut
sebagai amalan yang pertama dilakukan oleh Ali dalam khilafahnya.Sementara
itu,Ali memandang perlu diadakannya penerbitan dan penataan ulang terlebih
dahulu,baru kemudian berusaha membekuk para pembunuh Utsman dengan cara yang
lebih tenang dan cermat.
Daftar
Pustaka
Yatim,Badri.2011.Sejarah Peradaban Islam.Jakarta:RajaGrafindo
Persada.
Sa’id
Ramadhan Al-Buthy,Muhammad.1999.Sirah Nabawiyah.Jakarta:Robbani
Press.
As-Salus,Ali.1997.Imamah&Khilafah.Jakarta:GEMA
INSANI PRESS.
[1]Dr.Muhammad
Sa’id Ramadhan Al-Buthy,Sirah Nabawiyah(Jakarta:1999),hlm.
548.
[2]Ibid,
hlm. 549.
[3] Dr.Badri
Yatim,Sejarah Peradaban Islam,(Jakarta:2011),hlm.129
[4] Ibid,hlm.569.
[5]Dr.Ali
As-Salus,Imamah&Khilafah,(Jakarta:1997)
hlm.47
No comments:
Post a Comment