Wednesday, April 16, 2014

Ilmu Alamiah Dasar


SURAT ALI IMRAN AYAT 190-191

žcÎ)ÎûÈ,ù=yzÏNºuq»yJ¡¡9$#ÇÚöF{$#urÉ#»n=ÏF÷z$#urÈ@øŠ©9$#Í$pk¨]9$#ur;M»tƒUyÍ<'rT[{É=»t6ø9F{$#ÇÊÒÉÈ
tûïÏ%©!$#tbrãä.õtƒ©!$#$VJ»uŠÏ%#YŠqãèè%ur4n?tãuröNÎgÎ/qãZã_tbr㍤6xÿtGtƒurÎûÈ,ù=yzÏNºuq»uK¡¡9$#ÇÚöF{$#ur$uZ­/u$tB|Mø)n=yz#x»ydWxÏÜ»t/y7oY»ysö6ß$oYÉ)sùz>#xtãÍ$¨Z9$#ÇÊÒÊÈ
190.  “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal”,
191.  “(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan Ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, Maka peliharalah kami dari siksa neraka”.
v  Tafsir menurut mufasirin
1.      Ibnu Katsir
Ayat 190-191 surat Ali Imran merupakan penutup surat Ali Imran. Ini antara lain terlihat pada uaian-uraiannya yang bersifat umum. Setelah dalam  ayat-ayat  lalu mengurai hal-hal yang rinci, sebagaimana terbaca pada ayat 189 yang menegaskan kepemilikan Allah Swt. Atas alam raya. Maka pada ayat yang ke-190-191 Allah menguraikan sekelumit dari penciptaan-Nya, serta memerintahkan agar memikirkannya.
Salah satu bukti kebenaran bahwa Allah merupakan Sang Pemilik atas alam raya ini, dengan adanya undangan kepada manusia untuk berpikir, karena sesungguhnya dalam penciptaan, yakni kejadian benda-benda angkasa, seperti matahari, bulan dan jutaan gugusan bintang-bintang yang terdapat dilangit, atau dalam pengaturan sistem kerja langit yang sangat teliti serta kejadian dan perputaran bumi pada porosnya yang melahirkan silih bergantinya malam dan siang, perbedaannya baik dalam masa maupun panjang dan pendeknya terdapat tanda-tanda kemahakuasaan Allah bagi ulul albab, yakni orang orang yang memiliki akal yang murni.
            Kata (الباب) al-bab adalah bentuk jamak dari (لب) lub yaitu “saripati” sesuatu. Kacang misalnya, memiliki kulit yang menutupi isinya. Isi kacang dinamai lub. Ulul albab adalah orang-orang yang memiliki akal yang murni, yang tidak diselubungi oleh “kulit”, yakni kabut ide yang dapat melahirkan kerancuan dalam berpikir. Orang yang merenungkan tentang penomena alam raya akan dapat sampai kepada bukti yang sangat nyata tentang keesaan dan kekuasaan Allah Swt.
            Ayat ini mirip dengan ayat 164 surat Al-Baqarah, hanya saja di sana disebutkan delapan macam ayat-ayat Allah, sedang di sini hanya tiga. Bagi kalangan sufi, pengurangan ini disebabkan karena memang pada tahap-tahap awal, seorang salik yang berjalan menuju Allah membutuhkan banyak argumen akliyah. Akan tetapi, setelah melalui beberapa tahap, yakni ketika kalbu telah memperolah kecerahan, maka kebutuhan akan argumen aqliyah semakin berkurang, bahkan dapat menjadi halangan bagi kalbu untuk terjun ke samudra ma’rifat. Selanjutnya, kalau bukti-bukti yang disebutkan di sana adalah hal-hal yang terdapat di langit dan di bumi, maka penekanannya di sini adalah pada bukti-bukti yang terbentang di langit. Ini karena bukti-bukti di langit lebih menggugah hati dan pikiran, seta lebih cepat mengantar seseorang meraih rasa keagungan ilahi.

2.      Quraisy Shihab
Ayat ini dan ayat-ayat selanjutnya menjelaskan sebagian dari ciri-ciri orang yang dinamai ulul albab yang telah disebutkan pada ayat yang lalu. Mereka adalah orang-orang baik laki-laki maupun perempuan yang terus mengingat Allah dengan ucapan atau hati, dan dalam seluruh situasi dan kondisi, saat bekerja sambil berdiri atau duduk atau keadaan berbaring atau bagaimanapun, dan mereka memikirkan tentang penciptaan yakni kejadian dan sistem kerja langit dan bumi, dan setelah itu berkata sebagai kesimpulan; Tuhan kami tiadalah engkau menciptakan alam raya dan segala isinya ini dengan sia-sia tanpa tujuan yang hak. Apa yang kami alami, atau dengar dari keburukan atau kekurangan, Maha Suci Engkau dari semua itu. Itu adalah ulah atau dosa dan kekurangan kami yang dapat menjerumuskan kami kedalam siksa neraka, maka peliharalah kami dari siksa neraka. Karena, Tuhan kami “Kami tahu dan sangat yakin bahwa sesungguhnya siapa yang engkau masukan kedalam neraka, maka sungguh telah engkau hinakan ia dengan mempermalukannnya di hari kemudian seabagai seorang serta menyiksanya dengan siksa yang pedih. Tidak ada satupun yang dapat membelanya, dan tidak ada bagi orang-orang yang dzalim. Siapapun ia, satu penolongpun”.
Di atas terlihat bahwa objek dzikir adalah Allah, sedang objek pikir adalah makhluk-makhluk Allah berupa fenomena alam. Ini berarti bahwa pengenalan kepada Allah lebih banyak dilakukan oleh kalbu. Sedangkan pengenalan alam raya didasarkan pada penggunaan alam, yakni berpikir. Akal memiliki kebebasan seluas-luasnya untuk memikirkan fenomena alam, tetapi ia memiliki keterbatasan dalam memikirkan Dzat Allah. Hal ini dipahami dari sabda Rasullah Saw. yang diriwayatkan oleh Abu Nu’aim melalui Ibnu Abbas: “Berpikirlah tentang makhluk Allah dan jangan berpikir tentang Allah“.

Manusia yang membaca lembaran alam raya niscaya akan mendapatkan Allah sebelum manusia mengenal peradaban mereka yang menempuh jalan ini telah menemukan kekuatan itu (Allah Swt). Walau nama yang disandangkan untuknya bermacam-macam seperti; Penggerak Pertama, Yang Maha Mutlak, Pencipta Alam, Kehendak Mutlak, Yang Maha Kuasa, dan sebagainya. Bahkan seandainya mata tidak mampu membaca lembaran alam raya, maka mata hati dan cahayanya akan menemukannya karena memandang atau mengenal Tuhan ada dalam jangakauan kemampuan manusia melalui lubuk hatinya. Bahkan, bila manusia mendengar suara nuraninya dengan “telinga terbuka” pasti ia akan mendengar “suara Tuhan” yang menyerunya ini disebabkan karena kehadiran Allah dan keyakinan akan keesaannya, adalah fitrah yang menyertai jiwa manusia.
Fitrah itu tidak bias dipisahkan dari manusia meskipun mungkin tingkatannya berbeda sekali waktu pada seseorang ia sedemikian kuat, terang cahayanya melebihi sinar matahari dan pada saat yang lain atau pada orang lain ia begitu lemah dan redup. Namun demikian sumbernya tidak lenyap, akarnyapun mustahil tercabut.
Suatu ketika menjelang ruh manusia dicabut dari tubuhnya fitrah keagamaan itu muncul sedimikian kuat dan jelas.
            Seandainya manusia merasa puas dengan perasaan atau informasi jiwa dan intuisinya dalam mencari dan berkenalan dengan Tuhan, niscaya banyak jalan yang dapat disingkirkannya tetapi manusia tidak semuanya mampu berbuat demikian. Banyak juga orang yang menempuh jalan yang berliku-liku, memasuki lorong-lorong yang sempit untuk melayani rayuan akal yang sering mengajukan aneka pertanyaan “ilmiah” sambil mendesak untuk memperoleh jawaban yang memuaskan nalar.
            Bagi yang puas degan informasi intuisi, ia akan merasakan ketenangan dan kedamaian bersama kekuatan yang Maha Agung, siapapun yang dyakininya tanpa mendiskusikan apakah pengenalan mereka benar apa keliru.
            Islam tidak menolak melayani desakan akal atau dorongan nalar. Bukankah telah beragam argumen akliyah yang dipaparkan bersamaan dengan sentuhan-sentuhan rasa guna membuktikan keesaannya? Bukanya Al-qur’an menguji ulul albab yang berdzikir dan berpikir tentang kejadian langit dan bumi?   bukankah dia telah memerintahkan untuk memandang alam dan fenomenanya dengan pandangan nadzar atau nalar serta memikirkannya?  Bukankah bukti-bukti kehadirannya dipaparkan sedemikian jelas melalaui berbagai pendekatan? Tetapi  sekali lagi akal manusia sering kali tidak puas hanya sampai pada titik dimana wujudnya terbukti akal manusia sering kali mengenal dzat dan hakikatnya, bahkan ingin melihatnya dengan mata kepala, seakan-akan Tuhan adalah sesuatu yang dapat terjangkau oleh panca indra.
            Oleh karena itu, disinilah letak kesalahan bahkan letak bahaya. Karena inilah banyak pemikir jatuh tersungkur ketika mereka menuntut kehadirannya melebihi kehadiran bukti-bukti wujudnya seperti kehadiran alam raya dan teraturanya  bahakan disanalah bergelimpangan korban orang-orang yang tidak puas dengan pengenalan rasa atau yang mendesak meraih pengetahuan tentang Tuhan melebihan informasi Tuhan sendiri seandainya mereka menempuh cara yang mereka gunakan ketika merasa takut kepada harimau, tanpa melihat wujudnya  cukup degan mendengar raungnya atau seandainya mereka berinteraksi dengan Tuhan sebagai mana berinteraksi dengan matahari mendapatkan kemanfaatan dan kehangatan cahayanya tanpa harus mengenal hakekatnya, maka banyak daya dan waktu yang dapat digunakan untuk hal-hal yang bermanfaat tapi sekali lagi tidak semua manusia sama.
            Di atas telah dijelaskan makna firman-Nya, rabbana maa khalakta hadza batthilan / Tuhan kami, tiadalah engkau menciptakan ini dengan sia-sia, bahwa ia adalah sebagai natijah dan kesimpulan upaya dzikir dan pikir. Dapat juga dipahami dzikir dan pikir tersebut mereka lakukan sambil membayangkan dalam benak mereka bahwa alam raya tidak diciptakan Allah sia-sia.
            Penggalan ayat tersebut dipahami juga sebagai bagian dari ucapan mereka dengan ucapan: sesungguhnya siapa yang engkau masukkan ke dalam neraka… dan seterusnya, sehingga berarti bahwa mereka berdzikir dan berpikir seraya berkata Tuhan kami, tiadalah engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Memang pendapat ini dapat dibantah dengan menyatakan: “Bukankah ulul albab itu banyak sehingga bagaimana mungkin mereka sepakat mengucapkan kata itu?” keberatan ini ditampak oleh pendukung pendapat tersebut dengan menyatakan bahwa ucapan itu mereka tiru atau diajarkan oleh Rasul Saw.
            Quraish Shihab memahami kalimat tersebut sebagai hasil dzikir dan pikir, dengan demikian ia tidak dapat dihadang oleh keberatan di atas. Di sisi lain, hasil itu akan sangat serasi dengan permohonan mereka selanjutnya. Yakni karena semua makhluk tidak diciptakn sia-sia, karena ada makhluk yang baik dan yang jahat, ada yang durhaka dan ada pula yang taat, di mana tentu saja yang durhaka akan dihukum maka mereka memohon perlindungan dari siksa neraka mereka selanjutnya berusaha untuk menjadi makhluk yang baik dan taat.
            Ayat di atas mendahulukan dzikir atas pikir karena dzikir mengingat Allah dan menyebut nama-nama dan keagungannya. Hati akan menjadi tenang dengan ketenangan pikiran akan menjadi cerah bahkan siap untuk memperoleh limpahan ilham dan bimbingan ilahi.
            Didahulukannya kata “subhanaka” yang diterjemahkan sebagai “maha suci engkau“, atas permohonan terpelihara dari siksa neraka. Mengajarkan bagaimana seharusnya bermohon, yaitu mendahulukan pensucian Allah dari segala kekurangan dengan memujinya sebelum mengajukan permohonan. Hal ini dimaksudkan agar si pemohon menyadari nikmat Allah yang telah melimpah kepadanya sebelum adanya permohonan sekaligus untuk menampi segala perasangka ketidakadilan dan kekurangan terhadap Allah apabila ternyata permohonan belum diperkenankannya.
            Ayat di atas juga menunjukan bahwa semakin banyak hasil yang diperoleh dari dzikir dan pikir dan semakin luas pengetahuan tentang alam raya akan semakin dalam pula rasa takut kepadanya, hal ini antara lain tercemin pada permohonan untuk dihindarkan dari siksa neraka. Seperti firman-Nya: “sesungguhnya yang takut kepada Allah diantara hamba-hambanya hanyalah para ulama/ cendekiawan “(QS. Fathir : 28)
     

Kesimpulan QS. Ali Imran Ayat 190-191
            Kesimpulan dari isi QS. Ali Imran ayat 190-191 yang berdasarkan penjelasan mufassir yang dikemukakan di atas menunjukkan bahwa Allah menegaskan kepada umat manusia dengan memberikan perumpamaan agar dapat dipetik hikmah atau pelajaran dengan menjelaskan sebagian dari ciri-ciri orang yang dinamai-Nya ulul albab, yakni :
1.    Orang orang yang memiliki akal yang murni baik laki-laki maupun perempuan yang merenungkan tentang fenomena alam raya akan dapat sampai kepada bukti yang sangat nyata tentang keesaan dan kekuasaan Allah Swt.
2.    Orang-orang yang terus mengingat Allah dengan ucapan atau hati, dan dalam seluruh situasi dan kondisi, saat bekerja sambil berdiri atau duduk atau keadaan berbaring atau bagaimanapun, dan mereka memikirkan tentang penciptaan yakni kejadian dan sistem kerja langit dan bumi, dan
3.    Orang-orang setelah melihat dan memikirkan itu semua, mereka berkata sebagai kesimpulan terhadap ciptaan-Nya, yakni “Tuhan kami tiadalah engkau menciptakan alam raya dan segala isinya ini dengan sia-sia tanpa tujuan yang hak”.

mamz bager



No comments:

Post a Comment